<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Filsufgaul's Weblog</title>
	<atom:link href="http://filsufgaul.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://filsufgaul.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 08:46:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='filsufgaul.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Filsufgaul's Weblog</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://filsufgaul.wordpress.com/osd.xml" title="Filsufgaul&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://filsufgaul.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>DEMOGRAFI: SEBUAH DASAR</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/10/23/demografi-sebuah-dasar/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/10/23/demografi-sebuah-dasar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 08:46:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/2011/10/23/demografi-sebuah-dasar/</guid>
		<description><![CDATA[A. Demografi Definisi Tersurat, Historisitas, &#38; Harapan Demografi diidentikkan dengan gambaran suatu penduduk di suatu wilayah. Istilah ini diangkat dari bahasa Yunani Demos dan grafein, yang bermaksud untuk memberikan suatu lukisan menyeluruh dari suatu kondisi masyarakat. Lukisan terhadap keadaan dan kondisi masyarakat inilah yang nantinya dituangkan dalam statistik data kependudukan guna mengetahui konsisi sosial ekonomi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=116&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	Demografi Definisi Tersurat, Historisitas, &amp; Harapan<br />
Demografi  diidentikkan dengan gambaran suatu penduduk di suatu wilayah. Istilah ini diangkat dari bahasa Yunani Demos dan grafein, yang bermaksud untuk memberikan suatu lukisan menyeluruh dari suatu kondisi masyarakat. Lukisan terhadap keadaan dan kondisi masyarakat inilah yang nantinya dituangkan dalam statistik data kependudukan guna mengetahui konsisi sosial ekonomi penduduk di suatu negara. Dengan kemampuan ini, demografi memiliki manfaat yang cukup signifikan dalam memproyeksi kondisi penduduk yang berhubungan dalam mengetahui:</p>
<p>Eksisnya demografi dipelopori oleh John Graunt (1620-1674), warga negara Inggris yang cakap menganalisa masalah mortalitas. Ia menegaskan bahwa segala hal tentang riset kependudukan sebaiknya menekankan pada aspek jenis kelamin, negara, umur, dan agama. Pada pengiimplementasiannya  Graunt sangat berhati-hati dan sangat kritis dalam proses pencarian data penduduk disuatu wilayah.</p>
<p>Shryock &amp; Siegal mengkategorikan demografi dalam dua bentuk, demografi formal yang menekankan pada masalah jumlah, distribusi, struktur, dan pertumbuhan penduduk. Dan dalam arti luas mencakup karakteristik penduduk yang di dalamnya termuat aspek budaya, sosial, dan ekonomi.<br />
B.	Demografi: Komposisi, distribusi, dan data<br />
Dalam perjalanannya komposisi penduduk akan ditekankan pada empat aspek:<br />
1.	Demografi: umur, jenis kelamin, jumlah wanita usia subur, dan jumlah anak.<br />
2.	Karakteristik sosial: tingkat pendidikan  dan status perkawinan.<br />
3.	Ekonomi: kegiatan penduduk yang aktif, lapangan usaha, status dan jenis pekerjaan, dan tingkat pendapatan.<br />
4.	Geografis: letak tempat tinggal.</p>
<p>Distribusi Penduduk</p>
<p>Dalam mengetahui gambaran umum suatu wilayah, demografi jelas membutuhkan data untuk menganalisa jumlah dan gambaran penduduk. Menurut cara memperoleh data demografi dapat dikelompokkan  menjadi dua: primer yang dikumpulkan  sendiri oleh pengguna data untuk keperluan yang sangat spesifiki. Dan data sekunder, merupakan data yang dikumpulkan oleh pihak lain dan digunakan oloeh pengguna data di luar pihak yang mengumpulkan data. Beberapa sumber statistik demografi:</p>
<p>1.	Sensus penduduk,<br />
yang berupa pencatatan menyeluruh terhadap semua orang, dilaksanakan pada jangka waktu tertentu, dan mencakup suatu wilayah tertentu. Dalam sensus penduduk subjek yang didata adalah perorangan bukan keluarga dan menggunakan konsep de jure dan de facto. Dengan sensus penduduk akan didapatkan data yang menyeluruh sehingga sangat minim terbebas dari kesalahan sampel. Kualitas sensus penduduk ditentukan juga untuk beberapa faktor: partisipasi masyarakat, geografis, kualitas petugas, kualitas responden, perencanaan dan pelaksanaan.<br />
2.	Registrasi Vital<br />
Registrasi ini mengacu pada aspek kelahiran, perkawinan, kematian, dll. Terjadi di lingkungan gerejawi dan dipelopori oleh Graunt. Menyoal registrasi vital digunakan karena registrasi ini berfokus pada kejadian sejak seseorang lahir dan menjadi anggota suatu komunitas, sampai meninggal, serta semua perubahan status yang dialami antara keduanya dalam hal ini terkait pernikahan dan perceraian. Dalam pengambilan data jenis ini PBB mengatur beberapa syarat dalam pengambilan sampel:<br />
a.	Ada peraturan yang memaksa penduduk melapor<br />
b.	Dilaksanakan oleh badan pemerintah<br />
c.	Terdapat sanksi hukum<br />
d.	Ada petugas yang melaksanakan pendaftaran<br />
e.	Keterangan yg dilaporkan<br />
f.	Pelaporan kelahiran dan kematian<br />
g.	Tabulasi dan penyajian data.<br />
3.	Survey Sampel<br />
Dalam demografi teknik ini dilakukan untuk memperoleh data yang lebih terperinci dan spesifik serta untuk memenuhi kebutuhan data antar sensus. Beberapa hal yang membedakan:<br />
A.	Cakupan penduduk yang dicacah<br />
B.	Fleksibilitas pelaksanaan<br />
C.	Topik yang dikumpulkan</p>
<p>C.	Menelisik Fertilitas, Mordibilitas, dan Mortalitas<br />
Fertilitas adalah pada dasarnya merupakan kemampuan menghasilkan keturunan yang dikaitkan dengan kesuburan wanita (fekunditas). Dalam perkembangan demografi fertilitas lebih ditekankan pada hasil reproduksi yang nyata (bayi lahir hidup) dari seorang wanita atau sekelompok wanita. PBB lebih jauh mendefinisikan mortalitas dalam beberapa keadaan: lahir hidup (live birth), lahir mati (still birth), aborsi (sengaja dan spontan). Adapun beberapa ukuran dasar fertilitas di antaranya:<br />
1.	Angka kelahiran kasar, yang diukur dari banyaknya kelahiran dalam satu tahun tertentu perseribu penduduk.<br />
2.	Angka fertilitas umum, yang diukur dari banyaknya  kelahiran pada suatu tahun per 1000 penduduk perempuan berumur rentang 15-49 atau 15-44 tahun pada pertengahan tahun yang sama.<br />
3.	Angka kelahiran menurut umur, yang diukur melalui banyaknya kelahiran dari perempuan pada suatu kelompok umur pada suatu tahun tertentu per 1000 perempuan pada kelompok umur dan pertengahan tahun yang sama.<br />
4.	Angka fertilitas total, jumlah anak rata-rata yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan pada akhir masa reproduksinya apabila perempuan tersebut mengikuti pola fertilitas pada saat TFR dihitung.<br />
5.	Angka lahir hidup, banyaknya kelahiran hidup sekelompok atau beberapa kelompok perempuan pada saat mulai memasuki reproduksi hingga pada saat pengumpulan data dilakukan.<br />
6.	Rasio anak wanita, perbandingan antara jumlah anak di bawah lima tahun dengan jumlah penduduk perempuan usia reproduksi.<br />
Mordibilitas  merupakan peristiwa sakit atau kesakitan, yang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Konteks mordibilitas juga bergantung pada jenis penyakit dan lamanya sakit. Berbeda dengan mordibilitas, Mortalitas  merupakan kematian yang terjadi pada anggota penduduk.</p>
<p>D.	MIGRASI<br />
	Migrasi mencerminkan terjadinya perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melampaui batas politik atau negara ataupun batas administratif atau batas bagian dalam suatu negara. Dalam pengertian lain migrasi diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah ke daerah lain. adapun faktor pendorong migrasi antara lain:<br />
No	Faktor Pendorong	Faktor Penarik	4 keputusan pennyebab migrasi. Lee (1966)<br />
1	Berkurangnya sumber kehidupan	Harapan memperbaiki kehidupan	Faktor daerah asal<br />
2	Berkurangnya lapangan pekerjaan	Kesempatan pendidikan	Faktor daerah tujuan<br />
3	Tekanan politik, agama, suku	Lingkungan kondusif	Rintangan yang menghambat<br />
4	Pendidikan, pekerjaan, perkawinan	hiburan	Faktor pribadi<br />
5	Bencana alam		</p>
<p>E.	 Permasalahan Demografi Indonesia<br />
1.	Dalam kondisi realnya komposisi jumlah penduduk di Indonesia terpusat di Jawa, padahal perbandingan luas wilayah Jawa terhadap provinsi lainnya tidak lebih dari 7%. Hal ini jelas berimplikasi langsung terhadap ketimpangan pemerataan pembangunan di daerah-daerah selain Jawa. Bayangkan, jika persebaran penduduk terjadi secara merata maka kita akan bisa melihat Jakarta di Maluku, Papua, Kalimantan Barat, dll.<br />
2.	Lonjakan jumlah penduduk yang meningkat 2x lipat selama 4 dasawarsa dari tahun 1960-an. Menyebabkan masalah pemenuhan akan kebutuhan sulit terpenuhi karena suplai produksi barang dan jasa  yang sangat minim.<br />
3.	Padatnya jumlah penduduk menyebabkan meningkatnya jumlah angkatan kerja, sedangkan jumlah ketersediaan lapangan kerja konstan.<br />
4.	Peran pemerintah untuk mendorong migrasi penduduk juga dirasa kurang signifikan, belum mendapatkan perhatian utama dari masyarakat karena program lanjutan untuk bertahan hidup pasca migrasi belum efektif meningkatkan taraf hidup imigran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=116&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/10/23/demografi-sebuah-dasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAKTU TIDAK PERNAH BERPUTAR</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/05/03/101/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/05/03/101/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 May 2011 09:13:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Ia hanya terus berjalan linier dan tidak akan pernah melewati waktu yang telah dilalui Seperti jarum jam yang 2x dalam sehari melewati angka 12 yang sama. Banyak di antara kita yang sering menggunakan diksi “waktu terus berputar” dan diksi ini sangat identik dengan suatu target atau deadline kita terhadap sesuatu. Jika kita mau menelaah lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=101&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Ia hanya terus berjalan linier dan tidak akan pernah melewati waktu yang telah dilalui</p>
<p style="text-align:center;">Seperti jarum jam yang 2x dalam sehari melewati angka 12 yang sama.</p>
<a href="http://filsufgaul.wordpress.com/2011/05/03/101/#gallery-1-slideshow">Click to view slideshow.</a>
<p>Banyak di antara kita yang sering menggunakan diksi “waktu terus berputar” dan diksi ini sangat identik dengan suatu target atau deadline kita terhadap sesuatu. Jika kita mau menelaah lebih lanjut, konsep berputar  pada dasarnya menyuguhkan suatu ruang yang terbatas, terbatas hanya pada 360 derajat untuk dilalui dan setelahnya akan kembali dari 0 ke 1 dan seterusnya hingga mencapai 360 lagi. Konsep ini secara langsung mengartikan bahwa konsep berputar pada dasarnya jauh akan kebaruan, karena berapa kalipun kita berputar kita tetap akan melalui lintasan yang sama.</p>
<p>Konsep berputar ini sejatinya tidak dapat dikenakan dalam konsep waktu. Waktu secara substansial tidak pernah mengulang suatu periode yang telah dilalui (mis: tidak akan pernah mungkin muncul 11-11-2011 dalam rentang periode waktu berikutnya). Waktu akan terus berjalan linier menjelajahi suatu masa, periode, dan peradaban. Hanya waktu yang bisa menyaksikan perjalanan sejarah namun sedikitpun tidak bisa memberikan kepada manusia penjelasan dan deskripsi akan sejarah itu sendiri. Segala yang ada di masa depan adalah tidak pernah dapat diterka, terkecuali satu yang pasti terus bisa dipastikan di masa depan, yaitu “waktu” ( Kita bisa tahu bahwa 10 tahun mendatang adalah tahun 2021). Waktu itu kaku, tidak pernah terkena fleksibiltas, jumlahnya dalam satu jam 60 menit, bahkan saat terkena gempa hebat dan tsunami yang menimbulkan kerusakan parah, jumlah menitnya tidak berkurang sedikitpun.</p>
<p>Yang selama ini berputar adalah jarum jam, karena jarum itu membantu kita menerjemahkan waktu “hanya” dalam satu periode tertentu, yaitu “sehari” dan tidak bisa lebih. Pertanyaannya adalah: apakah jarum jam mencerminkan waktu?. Jawabannya adalah “ya!” tapi lebih jauh jarum jam tidak dapat menggantikan sifat dan substansi dari waktu yang linier dan tidak dapat berulang. Lalu jika begitu apa urgensi dari jarum jam?. Jarum jam pada hakikatnya mencoba untuk memotret bagian dari berjalannya waktu, namun karena kemampuan untuk memotretnya yang terbatas (hanya 1 hari), jarum jam tidak dapat menyajikan fakta utuh dalam kurun perjalanan waktu. Oleh karena itu, sifat jarum jam yang berulang mengindikasikan bahwa jarum jam terbatas, dan karena keterbatasannya memotret waktu maka ia harus terus mengulang memotret waktu ketika klimaksitas dari daya potretnya berakhir (ketika menunjuk angka 12).</p>
<p>Pemaparan di atas mencoba ingin memberikan pencerahan terhadap pemahaman konsep waktu yang kita pahami selama ini yang selalu berputar. Sehingga ke depannya kita dapat memahami lebih jauh bahwa jam yang sering kita gunakan sebagai patokan waktu adalah hanya berupa alat untuk mengkotak-kotakkan waktu yang telah begitu panjang berjalan agar kita dapat memahami masa lewat mozaik-mozaik jam yang kita jejerkan untuk menginterpretasikan suatu masa atau zaman.</p>
<p>Tidak dapat dihindari bahwa manusia akan terus terikat dengan waktu, bukan hanya terikat. Ketergantungan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan manusia dengan waktu. Waktu menjadi bagian dari historisitas manusia itu sendiri, dan waktulah yang akan membantu membentuk eksistensi manusia.  Karena dengan terus berjalannya waktu maka akan membentuk kedewasaan pribadi seiring dengan perkembangan fisiologi dan psikologi manusia itu sendiri. Berikut beberapa ilustrasi hubungan manusia dengan waktu yang di kotak-kotakkan berdasarkan pembagian periode:</p>
<ol>
<li><strong>1.       </strong><strong>Untuk memaknai waktu setahun, tanyalah kepada narapidana yang menunggu waktu dibebaskan. </strong>Setiap narapidana yang dihukum penjara dalam rentang waktu yang lama akan mengartikan waktu setahun sebagai bagian dari suatu hitungan pengharapan untuk bebas menghirup udara luar dan untuk bertemu lagi dengan sanak keluarganya.</li>
<li><strong>Untuk memaknai waktu sebulan,  Tanya kesiapan ibu yang akan melahirkan bayi prematur.</strong> Tidak mudah bagi seorang calon ibu yang menghadapi kenyataan bahwa ia harus melahirkan bayinya secara premature, akan ada banyak kekhawatiran terkait kondisi janin dan singkatnya waktu persiapan menghadapi persalinan.</li>
<li><strong>Untuk memaknai waktu seminggu, lihat kesibukkan editor majalah mingguan dalam mempersiapkan headline.</strong> Ketika suatu majalah mingguan terbit pada hari kamis, maka waktu seminggu dirasa sangat tidak cukup bagi editor untuk mempersiapkan berita yang akan diangkat h-2 menjelang terbit akan menjadi masa-masa kritis bagi seorang editor untuk menunjukkan eksistensi dan kredibilitasnya sebagai editor dengan kualitas berita yang baik.</li>
<li><strong>Untuk memaknai waktu sehari, tanyakan kebahagiian pekerja harian ketika mendapatkan upah di sore hari.</strong> Buruh harian adalah orang yang paling bahagia setiap harinya, karena setiap hari memasuki senja ada harapan akan imbalan yang akan ia dapatkan dari kewajiban kerjanya hari ini.</li>
<li><strong>Untuk memaknai waktu sejam, coba rasakan harapan tukang ojek sepeda yang sedang menunggu penumpang</strong>. Tukang ojek sepeda adalah profesi yang kian langka saat ini, bukan hanya itu kuantitas penumpangnyapun semakin berkurang, 5 penumpang setiap hari sudah merupakan suatu rezeki yang luar biasa bagi dirinya. Oleh karena itu, menunggu calon penumpang tiap jamnya adalah sebuah pengharapan akan kehidupan keluarganya yang lebih baik.</li>
<li><strong>Untuk memaknai waktu semenit, tanyakan pada seseorang yang ketinggalan kereta di pagi hari.</strong> Di jepang jadwal kereta api sangatlah tepat, oleh karena itu bagi orang yang terlambat satu menit saja berdampak akan keterlambatannya ke kantor selama berjam2.</li>
<li><strong>Untuk memaknai waktu satu detik, tanyakan kepada korban yang selamat dari kecelakaan.</strong> Pertolongan pertama pada korban kecelakaan ibarat bertarung melawan waktu, sedetik saja telat pertolongan tersebut maka nyawa taruhannya.</li>
<li><strong>Untuk memaknai waktu sepermili detik, tanyakan kepada atlet lari ketika meraih medali perak.</strong> Dalam kompetisi balap lari selisih antara pelari satu dengan pelari lainnya bukanlah dalam hitungan detik, namun lebih cepat dari pada itu,,karena seorang pelari dapat berlari mencapai kecepatan 80km/jam.</li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, salah jika kita menghargai waktu, karena waktu tidak akan pernah memberikan kelonggaran kepada kita. Yang lebih baik adalah bersahabat dengan waktu, agar kita mengerti betul pribadi waktu itu sendiri dan mampu menjalin hubungan baik dengannya agar kita dapat dibantu merencanakan masa depan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=101&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/05/03/101/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Propaganda Iklan Keselamatan Jalan Guna Menghadirkan Public Street Conciousness melalui Media Provokatif yang Strategis:Upaya Menghadirkan “Icelandonesia” Menuju Indonesia dengan Tingkat Kecelakaan Terendah Di Dunia</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/04/29/propaganda-iklan-keselamatan-jalan-guna-menghadirkan-public-street-conciousness-melalui-media-provokatif-yang-strategisupaya-menghadirkan-%e2%80%9cicelandonesia%e2%80%9d-menuju-indonesia-dengan-tingk/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/04/29/propaganda-iklan-keselamatan-jalan-guna-menghadirkan-public-street-conciousness-melalui-media-provokatif-yang-strategisupaya-menghadirkan-%e2%80%9cicelandonesia%e2%80%9d-menuju-indonesia-dengan-tingk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 08:35:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[APLIKATIF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Jalan dan manusia sedari berabad-abad lalu tidak pernah terpisahkan satu dengan yang lainnya. Manusia sengaja mengkonstruksikan jalan untuk mempermudah mobilitasnya. Manusia prasejarah mencoba mengkonsepkan jalan sebagai suatu area yang bersih dari aral rintangan baik batu besar, ranting, rerumputan, dan lain-lain. Dengan maksud, agar area yang telah dibersihkan tadi dapat dilewati tanpa harus ada resiko kecelakaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=97&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jalan dan manusia sedari berabad-abad lalu tidak pernah terpisahkan satu dengan yang lainnya. Manusia sengaja mengkonstruksikan jalan untuk mempermudah mobilitasnya. Manusia prasejarah mencoba mengkonsepkan jalan sebagai suatu area yang bersih dari aral rintangan baik batu besar, ranting, rerumputan, dan lain-lain. Dengan maksud, agar area yang telah dibersihkan tadi dapat dilewati tanpa harus ada resiko kecelakaan yang disebabkan oleh benda-benda tajam dan kasar yang akan melukai anggota tubuhnya. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunaan dan pengembangan jalan jauh lebih kompleks mengikuti tuntutan kebutuhan manusia di zaman modern. Jalan menjadi sarana vital distribusi kebutuhan manusia lintas area dan wilayah.</p>
<p>Dalam aktualisasi di zaman dengan perkembangan teknologi transportasi yang cukup pesat ini. Konsep jalan yang diharapkan mampu memberikan kemudahan mobilitas bagi manusia, justru menimbulkan dampak lain yang lebih serius. Hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi transportasi berimplikasi logis terhadap kuantitas kendaraan di jalan, padahal daya tampung lintasan jalan terbatas. Dan realitas ini tentunya menimbulkan banyak masalah di jalan, mulai dari kemacetan hingga meningkatknya angka kecelakaan berkendara di jalan.</p>
<p>PT Jasa Raharja Persero setidaknya mencatat tiap 15 menit sekali 1 kecelakaan kendaraan bermotor terjadi di Indonesia. terlihat dari biaya santunan kecelakaan yang di klaim mencapai 1 triliyun setiap tahunnya. <a title="" href="#_ftn1">[1]</a> sebagai contoh konkrit, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon Nuriyaman Novianto menyebutkan, tingkat kecelakaan di Cirebon tergolong tinggi, dalam kurun waktu empat bulan selama tahun 2010 angka kecelakaan mencapai 188 kejadian atau rata-rata 47 kejadian dalam satu bulan. Di Banten berdasarkan pemaparan dari Direktur Lalu lintas Polda Banten diperoleh statistic bahwa sepanjang Januari hingga Desember 2010 tercatat jumlah kecelakaan mencapai 106 kasus dengan rincian korban meninggal 16 orang, luka berat 69, dan 199 luka ringan, sementara kerugian materi yang dialami mencapai Rp 3 miliar.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Tidak hanya itu, Surabaya ternyata menempati tingkat kecelakaan tertinggi. Selama Januari hingga Februari 2011. Jumlah kecelakaan pada Januari sebanyak 57 kejadian dengan korban meninggal 30 jiwa, 23 jiwa luka berat dan 23 jiwa luka ringan. Dengan total kerugian materiil sebanyak Rp 53 juta. Bulan Februari sebanyak 57 kejadian, korban meninggal 30 jiwa, 24 jiwa luka berat, dan 25 luka ringan dengan jumlah kerugian materiil sebanyak Rp 32 juta.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Beberapa contoh di atas menempatkan Indonesia pada urutan ke-14 se-dunia dan peringkat 3 se-Asia negara dengan tingkat kecelakan terbesar.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> Iceland menduduki peringkat pertama negara dengan tingkat kecelakaan terendah di dunia dengan 1: 1000, dan disusul dengan Jepang di wilayah Asia. Dengan tingkat kecelakaan serendah itu maka bukan hanya sistem keamanan jalan serta sarana dan prasarananya saja yang baik. Namun terlebih dari itu, kesadaran pengguna jalan di Iceland jauh lebih <em>aware</em> di banding negara-negara lain.</p>
<p>Kecelakaan pada aktualnya di lapangan menuntut kompleksitas faktor-faktor penyebab dari kecelakaan itu sendiri. Setidaknya, empat faktor yang saling terkait sebagai penyebab dari kecelakaan lalu lintas adalah: sumber daya manusia (<em>driver</em>), sarana dan prasarana, kondisi kendaraan, dan alam.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Namun, dari keempat faktor penyebab kecelakaan tersebut, faktor pengendara adalah penentu utama terjadinya kecelakaan. Dalam pengertian lain, sebaik apapun sarana dan prasarana jalan ataupun sebaliknya, jika pengendara tidak memiliki kesadaran akan keselamatan berkendara di jalan. Maka, bahaya kecelakaanpun sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Kesadaran akan keselamatan dalam berkendara setidaknya melingkupi tiga jenis kesadaran:</p>
<p>1.    Bahwa saya di jalan tidak sendirian, dan oleh karena itu saya harus dapat berinteraksi dengan pengendara lain untuk sama-sama menjaga batas dan kondisi aman berkendara saya.</p>
<p>2.    Bahwa jalan yang saya gunakan adalah bukan milik saya sepenuhnya secara pribadi, oleh karena itu saya memiliki kewajiban untuk menjaga kondisinya agar tetap baik dan aman untuk digunakan</p>
<p>3.    Bahwa melakukan pelanggaran dalam berkendara di jalan bukan hanya akan membahayakan diri sendiri, tapi juga orang lain.</p>
<p>Ketiga konsep kesadaran tersebut jelas memberikan tanggung jawab penuh kepada personal pengendara untuk menjaga dan mengendalikan diri dari hal-hal yang memungkinkan terjadinya kecelakaan di jalan. Karena dari data tingkat kecelakaan yang diperoleh, penyebab kecelakaan di jalan bukan mayoritas disebabkan oleh sarana dan prasarana yang tidak baik, namun lebih kepada kealfaan pengendara yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas.</p>
<p><a href="http://filsufgaul.files.wordpress.com/2011/04/kesadaran-jalan.jpg"><img class="size-medium wp-image-98 aligncenter" title="kesadaran jalan" src="http://filsufgaul.files.wordpress.com/2011/04/kesadaran-jalan.jpg?w=300&#038;h=239" alt="" width="300" height="239" /></a></p>
<p align="center"><strong>Gambar 1.1 Ilustrasi k</strong><strong>esadaran akan Keselamatan Jalan</strong></p>
<p align="center">
<p>            Membangun kesadaran memang bukan perkara mudah, terlebih jika penyadaran itu melibatkan banyak personal yang merasa bahwa tiap diri berhak terhadap penggunaan jalan, dan merasa sudah paham betul bagaimana seharusnya berkendara di jalan. Jelas hal ini akan menjadi tugas berat bagi pemangku kebijakan untuk mengubah paradigma masyarakat terkait kesadaran keselamatan jalan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama terintegrasi dari semua pihak untuk mewujudkan kesadaran keselamatan berkendara ini. Realisasi konkritnya adalah dengan mengikutsertakan semua masyarakat untuk membantu transfer informasi keselamatan jalan kepada para pengendara jalan lain agar kesadaran itu muncul karena sering menyerap informasi tentang keselamatan berkendara di jalan.</p>
<p>Cara yang paling ampuh dalam upaya peningkatan kesadaran akan keselamatan jalan adalah dengan “propaganda iklan keselamatan jalan”. Dalam hal ini, beberapa instansi yang terkait langsung terhadap keselamatan jalan seperti POLRI, Departemen Perhubungan, Departemen PU, dan Jasa Marga harus bersinergi merencanakan <em>project</em> propaganda ini dengan baik. Ada beberapa langkah yang harus di riset sebelum pembuatan propaganda iklan keselamatan jalan ini. Hal yang paling utama adalah mencari informasi kapada pengendara sebagai pelaku utama pemakai jalan, setidaknya ada tiga kategori pengendara yang harus digali informasinya: pertama pengendara yang selalu mematuhi peraturan lalu lintas dengan dibuktikan tidak pernah terkena sanksi pidana, kedua pengendara yang pernah melanggar lalu lintas dengan dibuktikan pernah terkena sanksi pidana, dan pengendara yang pernah mengalami kecelakaan selama berkendara. Dari ketiga jenis pengendara ini kita dapat menggali informasi terkait kondisi jalan, faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi berkendara di jalan, serta penyebab utama kecelakaan. Jika data sudah terkumpul kita dapat menggeneralisasikannya berdasarkan kesamaan pandangan akan suatu kejadian. Dan data-data generalisasi inilah yang dapat ditransformasikan dalam media iklan propaganda.</p>
<p>Wujud propaganda dapat diwujudkan dalam gambar-gambar berupa korban kecelakaan, angka kecelakaan dengan korban luka berat dan meninggal dunia yang dipasang pada baliho-baliho di dekat lampu lalu lintas. Sehingga, pada saat mobil berhenti, pengendara seakan disuguhkan kenyataan yang sering terjadi di jalan jika mereka ceroboh dan tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Tidak hanya terkait data, gambaran tantang pengandaian juga dirasa ampuh menyentuh kesadaran, seperti implikasi jika mereka mengalami kecelakaan dan mengalami luka berat sehingga kedepannya mereka tidak dapat produktif mencari nafkah. Atau editorial propaganda dapat berupa himbauan, seperti pemakaian helm SNI, larangan menyalip dari sebelah kiri, dan lain-lain. Yang di wujudkan pada stiker-stiker dan dibagikan ke pengandara, dengan harapan agar mereka dapat memasangnya di bagian kendaraan mereka dengan posisi yang strategis sehingga dapat dilihat pengendara lain. Dengan kebersediaan pengendara memasang media propaganda ini, maka tidak hanya instansi-instansi yang terkait saja yang peduli akan keselamatan jalan. Namun, para pengendara juga ikut aktif berusaha menekan tingkat kecelakaan di jalan. Wujud propaganda ini adalah sebagian kecil contoh yang dapat diimplementasikan oleh masyarakat dan instansi pemangku kebijakan terkait dalam upaya meminimalisasi angka kecelakaan di jalan.</p>
<p>Dalam pengimplementasiannya di kemudian hari, project ini dapat melibatkan pihak-pihak yang <em>concern</em> dalam pembuatan bahasa iklan provokatif dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat (bahasa gaul). Sehingga, kedepannya propaganda keselamatan jalan jauh lebih bersifat humanis dan dekat dengan masyarakat. Jika kesadaran masyarakat mulai sedikit demi sedikit terbentuk dalam proses propaganda ini, niscaya angka kecelakaan di jalan dapat ditekan dengan bantuan peran aktif masyarakat pengguna jalan memprovokasikan pengguna jalan lain untuk sadar akan keselamatan jalan lewat iklan-iklan provokatif. Jika project ini dapat terimplementasikan dengan baik maka sangat dimungkinkan kita dapat menghadirkan “<em>icelandonesia”</em> dan menggeser posisi Iceland sebagai negara dengan tingkat kecelakaan terendah di dunia.</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Klaim Kecelakaan Jasa Raharja. <a href="http://www.komisikepolisianindonesia.com/">www.komisikepolisianindonesia.com</a> (diakses pada 2 April 2011)</p>
</div>
<div>
<h1><a title="" href="#_ftnref2"><strong>[2]</strong></a> Selama 2010, Angka Kecelakaan di Tol Merak Meningkat. POS KOTA. Minggu 10 April 2011.</h1>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Angka Kecelakaan di Surabaya Masih Tinggi. Detik Surabaya. 23 Mar 2011.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Budi Hartanto, 2009, Perbandingan Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas Jalan Antar Instansi Terkait Di Indonesia, (Jurnal Teknik Sipil, Vol 5, Universitas Kristen Maranatha: Bandung).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> pariyanto, <a href="http://www.wawasandigital.com/">www.wawasandigital.com</a>, diakses pada 15 April 2011.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=97&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/04/29/propaganda-iklan-keselamatan-jalan-guna-menghadirkan-public-street-conciousness-melalui-media-provokatif-yang-strategisupaya-menghadirkan-%e2%80%9cicelandonesia%e2%80%9d-menuju-indonesia-dengan-tingk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://filsufgaul.files.wordpress.com/2011/04/kesadaran-jalan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kesadaran jalan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>urgency in the exhilarating spirit of defending the state of national education systems: gave birth to young seedlings as the main actor full militancy to fight “Indonesia, fixed price!”</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/04/24/urgency-in-the-exhilarating-spirit-of-defending-the-state-of-national-education-systems-gave-birth-to-young-seedlings-as-the-main-actor-full-militancy-to-fight-%e2%80%9cindonesia-fixed-price/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/04/24/urgency-in-the-exhilarating-spirit-of-defending-the-state-of-national-education-systems-gave-birth-to-young-seedlings-as-the-main-actor-full-militancy-to-fight-%e2%80%9cindonesia-fixed-price/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 13:29:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[PERTAHANAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[When we talk about management of the defense, in this context, it shall be attached to at least three main focuses: the development of system of management of resources, the creation of a system of administration of energy or the ability of defense and national security, and the way to create management system for the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=87&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://filsufgaul.files.wordpress.com/2011/04/pendidikan-wawasan-pertahanan1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-94" title="pendidikan wawasan pertahanan" src="http://filsufgaul.files.wordpress.com/2011/04/pendidikan-wawasan-pertahanan1.jpg?w=300&#038;h=212" alt="" width="300" height="212" /></a>When we talk about management of the defense, in this context, it shall be attached to at least three main focuses: the development of system of management of resources, the creation of a system of administration of energy or the ability of defense and national security, and the way to create management system for the safety of the capacity of self-defense force. It is obvious that the third deployment of this system requires absolute mode in the community during the development of management systems, since it is not possible to rely solely on TNI considering the extent of Indonesia territorial. Any people who live and make this land as the place of birth or the Earth to sustain his/her existence, then, is credited the obligation of maintaining the unity of this NKRI. The essence of the security defense itself is a process of management of national resources which is expected to become a potential resource, and strengthen the ability of construction. The effective and efficient use for the interests of defense is the security of the State. The occurs of national security intact and people who have a strong national defense are expected out of this process. From these definitions, it is clear that not only the TNI and POLRI imposed the obligation to defend the country, but community as well. Old belief assumption that only TNI and POLRI that colsely related on national security must now must be reduced. When people try to take part actively in the security of the State, the first society must be the main aim is the younger generation. In this case, adolescents at school. It becomes essential because the knowledge of national defense must be socialized as soon as possible in the younger generation. Sad fact is that most school still place students only as subjects of the education. Students made in the position of receiving knowledges passively, which is the opposite way of the ideal education that involves them more in order humanize the man himself. The establishment of communication and interpersonal relationships between individuals and groups within a community of equal persons is also an important outcome of the education process. From the explanation above, it is very clear that the education process is integrated with the society for the environment. When a person living in a society of the State in the territorial limits, then each person has an obligation to defend and maintain the existence of the territory. That way, proper knowledges on national defense has to take large space in the material taught at schools. Not merely the theory, yet also the study plan course and updates. It is the Ministry of Defense, TNI, POLRI, and the Ministry of Education that should be involved to design the curriculum of national defense designed for all levels of education. The prospect of it is not only a form of open warfare, but also to transform the economic, social and cultural landscape, and every aspect that are very close to civil society. Therefore, education on national defense is absolutely necessary to strengthen young people against the global threat that manifests itself in the form and any aspect.</p>
<p>The previous scheme explains that, basically, the national system of education as reflected in the curriculum of KTSP (unit level education curriculum) provides a space for the development of local content required by students. This space can be put to good use to promote to young generations the importance of seeking and maintaining the national defense, the future will provide the community with a vision of a formidable defense. And if society has been formed correctly, the development of the defense management systems integrity NKRI can be applied through the use of all the people of Indonesia as the main actor of the wrestlers warriors.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=87&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2011/04/24/urgency-in-the-exhilarating-spirit-of-defending-the-state-of-national-education-systems-gave-birth-to-young-seedlings-as-the-main-actor-full-militancy-to-fight-%e2%80%9cindonesia-fixed-price/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://filsufgaul.files.wordpress.com/2011/04/pendidikan-wawasan-pertahanan1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">pendidikan wawasan pertahanan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FREE CAM (Film, Research, Education, and Care Human): Mendobrak Paradigma Pendidikan Konservatif (“Mengajar”) Menuju Pendidikan Berbasis Pembelajaran Audio Visual, Aksi, dan Kepedulian.</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2010/11/30/free-cam-film-research-education-and-care-human-mendobrak-paradigma-pendidikan-konservatif-%e2%80%9cmengajar%e2%80%9d-menuju-pendidikan-berbasis-pembelajaran-audio-visual-aksi-dan-kepedulian/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2010/11/30/free-cam-film-research-education-and-care-human-mendobrak-paradigma-pendidikan-konservatif-%e2%80%9cmengajar%e2%80%9d-menuju-pendidikan-berbasis-pembelajaran-audio-visual-aksi-dan-kepedulian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 2010 06:58:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Jika membicarakan pendidikan maka kita juga akan membicarakan tentang kehidupan, karena pendidikan merupakan suatu kerja aktif yang berjalan hampir selama kehidupan ini terbentuk. Ketika manusia dilahirkan di muka bumi ini, maka ia akan mulai belajar hingga kelak ia meninggalkan dunia ini. Pendidikan memainkan peranan yang sangat penting dalam membentuk generasi penerus suatu bangsa, karena kekuatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=82&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika membicarakan pendidikan maka kita juga akan membicarakan tentang kehidupan, karena pendidikan merupakan suatu kerja aktif yang berjalan hampir selama kehidupan ini terbentuk. Ketika manusia dilahirkan di muka bumi ini, maka ia akan mulai belajar hingga kelak ia meninggalkan dunia ini. Pendidikan memainkan peranan yang sangat penting dalam membentuk generasi penerus suatu bangsa, karena kekuatan dan kelemahan suatu bangsa ditentukan oleh seberapa matang dan dewasanya pemikiran dari warganya. Dan tentunya, “maturity” sangat ditentukan oleh faktor pendidikan yang diperoleh oleh tiap orang karena keberadaan pendidikan melekat erat pada dan dalam diri manusia sepanjang zaman..  Ketika pendidikan berfungsi untuk menciptakan individu yang dewasa, cerdas, dan matang secara emosional, maka sudah seharusnya proses dalam pendidikan merupakan suatu proses ‘mendidik’ bukan ‘mengajarkan’. Secara harafiah pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang  atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia  melalui upaya pengajaran dan pelatihan: proses, cara, perbuatan mendidik. Mendidik secara harafiah berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.  Mendidik dalam artian di sini merupakan proses transfer ilmu yang bersifat dua arah antara pendidik dan orang yang dididik, dan karena korelasional yang aktif inilah maka proses pendidikan dapat membentuk kepribadian peserta didik yang kreatif, inovatif, terbuka, dan matang secara emosional. Sedangkan, mengajar lebih identik dengan proses transfer ilmu yang satu arah, yaitu dari pendidik kepada orang yang dididik. Secara harafiah mengajar berasal dari kata ‘ajar’ yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (dituruti); dan mengajar merupakan kegiatan memberi pelajaran.  Proses mengajar ini memiliki implikasi pada mereduksinya kreatifitas, pasifitas, dan penundaan kematangan secara emosional yang dikarenakan peserta didik tidak diberikan kesempatan untuk berdialog dan mengemukakan pendapat kepada pendidik. Pendidikan ideal harus berpijak pada pengembangan keutuhan seorang peserta didik agar muncul self-realisation-nya dengan baik. Sangat tidak bijaksana ketika kegiatan pendidikan justru hanya menekankan sisi kecerdasan intelektual semata-mata. Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence (Sidi, 2001, Hlm.53) menerangkan bahwa IQ seseorang hanya menyumbang 20% dari kesuksesan seseorang, sedangkan 80 % sisanya ditentukan oleh faktor lain (kecedasan intelektual dan kecerdasan emosional). Pendidikan ideal adalah pendidikan yang mampu menyeimbangkan domain-domain tersebut sehingga lahirlah masyarakat peradaban (civilize culture society), dan akan menciptakan masyarakat yang sadar (conscious community).  Pendidikan yang ideal pada hakikatnya berupaya untuk menempatkan manusia dalam tataran sebagai subjek dalam proses pendidikan, atau dengan kata lain untuk memanusiakan manusia itu sendiri.  Pendidikan yang berlangsung diharapkan dapat menciptakan suatu bentuk pendidikan yang humanis, dalam artian menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok yang setara di dalam suatu komunitas. Keberadaan manusia pada zaman ini seringkali diukur dari “to have” (apa saja materi yang dimilikinya) dan “to do” (apa yang telah berhasil dilakukannya) daripada keberadaan pribadi yang bersangkutan (“to be” atau “being”nya). Berdasarkan pemaparan di atas, maka model pendidikan yang diusung oleh sistem pendidikan nasional mutlak harus dirubah agar fokus dan tujuan pendidikan bertransformasi dari pola mengajar yang satu arah ke pola “belajar”. Saya sejujurnya masih kurang paham terhadap munculnya kata “mengajar” dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional RI yang mencantumkan lebih dari 30 kata “mengajar” yang tersebar di beberapa pasalnya. Padahal, secara definitif dan harafiah penggunaan kata “mengajar” dalam aplikatifnya tidak pernah aktif, melainkan pasif dan satu arah. Oleh karena itu, konsep mengajar yang ada selama ini harus dirubah ke arah yang lebih aktif agar siswa dan guru sama-sama dapat belajar, transfer ilmu, mengaplikasikan apa yang mereka dapat dari hasil belajar, dan melakukan tindakan konkrit bagi masyarakat sesuai apa yang mereka lihat dan pelajari. Konsep pendidikan belajar aktif ini tentunya memerlukan media pembelajaran yang representatif pula. Dan salah satu alternatif media pembelajaran yang efektif adalah secara audio visual. Berdasarkan penelitian, media pembelajaran audio visual menyumbang pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan kognisi seseorang dibandingkan media audio saja atau visual saja. Dan untuk itu, saya bermaksud untuk mengusung media pembelajaran audio visual bagi siswa SD dengan menggunakan media film, bertajuk “FREE CAM”. FREE CAM dalam industry pertelevisian diartikan sebagai kegiatan mengambil gambar yang tidak disengaja (candit). Pengambilan shoot ini biasanya tidak diketahui oleh subjek gambar, dan juga bisa sadar atau tidak sadar mengambil shoot dari sisi pengambil gambar (take cameraman). Dan pada pengaplikasiannya, teknik Free Cam ini justru menawarkan seuatu fenomena kejadian yang lebih hidup, natural, dan lebih jujur dibanding pengambilan gambar melalui skenerio. Dan dalam perkembangan dunia pertelevisian, teknik ini familiar digunakan pada program-program ber-genre reality show. FREE CAM, dalam alternatif model pendidikan yang saya tawarkan adalah suatu model pengajaran berbasis audio visual yang diimplementasikan dalam kegiatan menonton film bersama (nobar). Kegiatan ini dapat dilaksanakan pada malam hari di penghujung hari libur. Hal ini dimaksudkan memberikan alternatif kegiatan pengisi waktu luang bagi siswa pada hari libur, dibandingkan mereka hanya menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak jelas. Beberapa film yang direkomendasikan untuk ditonton siswa Sekolah Dasar adalah:</p>
<p>1.	Berang-berang Sang Ahli Pembuat Bendungan (Harun Yahya)</p>
<p>2.	Cerita untuk Anak Cerdas 1 &amp; 2 (Harun Yahya)</p>
<p>3.	Keajaiban Desain di Alam (Harun Yahya)</p>
<p>4.	Keajaiban di Dalam Tubuh Kita (Harun Yahya)</p>
<p>5.	Keajaiban Flora &amp; Fauna (Harun Yahya)</p>
<p>6.	Kisah Sahabat Kecil Kita Semut (Harun Yahya)</p>
<p>7.	Makhluk-Makhluk yang Mengagumkan (Harun Yahya)</p>
<p>8.	Menjelajah Dunia Laba-Laba (Harun Yahya)</p>
<p>9.	Menjelajah Dunia Semut (Harun Yahya)</p>
<p>10.	Penciptaan Alam Semesta (Harun Yahya)</p>
<p>11.	Laskar Pelangi (Riri Riza)</p>
<p>12. Garuda Didadaku (Ifah Isfansyah)</p>
<p>13.	Sang Pemimpi (Riri Riza)</p>
<p>14.	Alangkah Lucunya Negeri Ini (Deddy Mizwar)</p>
<p>15.	Sepuluh (Henry Riady)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alasan pengambilan film sebagai media pembelajaran dikarenakan film merupakan media yang menyajikan fakta dan fenomena secara rill, walaupun dalam sejumlah film komersial settingnya telah diatur oleh sang sutradara. Namun, beberapa film yang dari awal memang mengusung tema yang edukatif cukup berhasil memberikan inspirasi dan semangat bagi penontonnya. Saya sadar bahwa tidak semua lapisan masyarakat bisa menyaksikan film-film edukatif terbaik hasil sineas muda karena keterbatasan fasilitas dan biaya. Oleh karena itu, tugas kita bersamalah untuk membantu mentransfer pesan edukatif dari film-film yang sarat akan muatan pesan edukatif  kepada masyarakat yang belum terjamah film. Bayangkan, jika adik-adik kita di SD dipelosok bisa ikut menonton beberapa contoh film di atas, maka berapa banyak benih harapan untuk maju yang akan tumbuh dari adik-adik kita yang tak beralas kaki ke sekolah di pelosok sana. 	Saya sadar dibalik kesempurnaan tiap karya sineas film pasti terdapat kekurangan dan ketidakutuhan penyampaian pesan atau informasi dari sebuah film karena minimnya durasi dari sebuah film untuk menggambarkan holistikasitas dari sebuah fenomena. Dan jika itu masih menjadi pertimbangan bagi kita volunteer pendidikan, maka film dokumenter adalah jawabannya. Film dokumenter setidaknya akan menggambarkan fenomena masyarakat lebih dekat dengan fenomena subjek penontonnya, karena film dokumenter adalah film keterlibatan langsung tanpa skenario terarah yang menggambarkan suatu fenomena secara apa adanya dan tidak dibuat-buat. Dengan film dokumenter tentang fenomena lingkungan sekitar sekolah, dan diputarkan dalam kuliah audio visual umum di sekolah. Maka, civitas sekolah akan mendapatkan gambaran secara terbuka dan sama tentang kearifan wilayah yang perlu dijaga dan dipertahankan, serta problem-problem social kemasyarakatan yang harus dicarikan solusinya bersama.  	Setelah seluruh civitas sekolah mendapatkan gambaran umum tentang kearifan lokal yang perlu dipertahankan, dan problem yang harus diselesaikan. Selanjutnya, siswa diharapkan untuk membuat project dalam rangka untuk memelihara kearifan lokal dan menyelesaikan problematika sosial kemasyarakatan yang ada disekitar masyarakat dan disesuaikan dengan ilmu yang telah mereka peroleh di sekolah. Project ini nantinya dapat dijadikan suatu muatan lokal yang berkesinambungan dan masuk di dalam mata pelajaran. Jika program ini berhasil dijalankan, maka implikasi logis dari program ini adalah terciptanya budaya peduli terhadap sesama dan lingkungan, yang dimotori oleh satuan terkecil jenjang pendidikan yaitu siswa SD. Secara flowcart program FREE CAM ini dapat digambarkan sebagai berikut:</p>
<p><a href="http://filsufgaul.files.wordpress.com/2010/11/freecam.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-83" title="freecam" src="http://filsufgaul.files.wordpress.com/2010/11/freecam.jpg?w=300&#038;h=173" alt="" width="300" height="173" /></a></p>
<p>Saya sepenuhnya sadar bahwa permasalahan yang dihadapi siswa sekolah dasar di pedalaman adalah pengentasan buta huruf. Namun, program pengentasan buta hurufpun tidak akan berjalan dengan maksimal jika subjek pendidikan (siswa) tidak memiliki motivasi tinggi untuk mengejar apa yang mereka cita-citakan, dan FREE CAM menawarkan alternatif solusi menumbuhkan motivasi untuk berani berbuat dan bercita-cita dikalalangan siswa sekolah dasar. Program ini selamanya hanya akan menjadi ide jika tidak ada pihak yang peduli akan masa depan dan perkembangan nasib generasi muda kita di pelosok. Besar harapan saya agar program ini dapat terealisasi dengan baik, tentunya oleh orang-orang yang peduli akan masa depan pendidikan Indonesia. Jika kita bisa memulai mencerdaskan adik-adik kita untuk kritis menonton dan bertindak nisacaya kita tidak akan kehilangan satu generasi yang melek terhadap media dan fenomena sosial kemasyarakatan, dan pada akhirnya menciptakan generasi muda yang berani berkorban untuk membantu menyelesaikan berbagai permasalahan sosial kemasyarakatan yang ada di sekitarnya.   Tiada nikmat terindah selain dapat Melihat Tiada kesan yang begitu berarti selain dapat Merasakan Tiada kebahagiaan terindah selain dapat Membantu Dan tiada upaya yang benar-benar agung selain Memperjuangkan Jika tidak dapat melihat buta Tidak dapat merasakan Mati rasa Tidak dapat membantu Sombong Dan jika tidak mau berjuang Mati sekalian…. Mulai sekarang Berjuang..berjuang.. Berjuang…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=82&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2010/11/30/free-cam-film-research-education-and-care-human-mendobrak-paradigma-pendidikan-konservatif-%e2%80%9cmengajar%e2%80%9d-menuju-pendidikan-berbasis-pembelajaran-audio-visual-aksi-dan-kepedulian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://filsufgaul.files.wordpress.com/2010/11/freecam.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">freecam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggugat Bentuk Kekuasaan dan Dominasi dalam Sistem Pendidikan Nasional</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/menggugat-bentuk-kekuasaan-dan-dominasi-dalam-sistem-pendidikan-nasional/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/menggugat-bentuk-kekuasaan-dan-dominasi-dalam-sistem-pendidikan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 14:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/menggugat-bentuk-kekuasaan-dan-dominasi-dalam-sistem-pendidikan-nasional/</guid>
		<description><![CDATA[Freire menjelaskan bahwa kekuasaan dipandang sebagai kekuatan yang negatif dan sekaligus positif. Sifatnya dialektis tetapi mode of operation-nya selalu represif. Menurut Freire, kekuasaan bekerja pada dan melalui masyarakat. Di satu sisi, ini berarti bahwa dominasi tidak pernah sepenuhnya mutlak, yang dalam hal ini kekuasaan bersifat ekslusif dan sebagai kekuatan negatif. Di sisi yang lain, kekuasaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=80&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Freire menjelaskan bahwa kekuasaan dipandang  sebagai kekuatan yang negatif dan sekaligus positif. Sifatnya dialektis tetapi mode of operation-nya selalu represif. Menurut Freire, kekuasaan bekerja pada dan melalui masyarakat. Di satu sisi, ini berarti bahwa dominasi tidak pernah sepenuhnya mutlak, yang dalam hal ini kekuasaan bersifat ekslusif dan sebagai kekuatan negatif. Di sisi yang lain, kekuasaan merupakan daya dorong dari semua perilaku manusia di mana masyarakat mempertahankan hidupnya, berjuang dan berusaha mewujudkan cita-cita kehidupannya yang lebih baik.<br />
	Secara umum teori kekuasaan Freire dan gambarannya mengenai sifat-sifatnya yang dialektis menunjukkan bahwa fungsi-fungsi kekuasaan ini sangat penting dan merasuk ke berbagai segi kehidupan. Dalam hal ini, kekuasaan tidak dipahami hanya dalam wilayah publik dan pribadi di mana pemerintah, kelas-kelas yang dominan dan kelompok lainnya memainkan peranan. Karena, kekuasaan itu ada di tangan siapa saja dan menemukan bentuknya dalam ruang publik yang saling beroposisi yang secara tradisional telah kehilangan kekuasaanya dan bentuk-bentuk resistensinya.<br />
	Pandangan Freire ini pada dasarnya menekankan bahwa kekuasaan itu akan selalu diikuti dengan pertentangan, ketegangan, dan kontradiksi dalam berbagai institusi sosial, seperti sekolah di mana kekuasaan seringkali dianggap sebagai kekuatan positif yang resisten. Dominasi dipraktikkan lewat kekuasan, teknologi dan ideologi yang secara bersama-sama menghasilkan pengetahuan, hubungan sosial dan ekspresi budaya yang berfungsi secara aktif untuk membuat masyarakat  diam.<br />
	Telah dijelaskan sebelumnya bahwa konsep dominasi dan bagaimana kekuasaan bekerja secara represif terhadap jiwa manusia memperluas konsep belajar, termasuk bagaimana manusia belajar tanpa berkata-kata, bagaimana kebiasaan kemudian menjadi sejarah yang beku, dan bagaimana pengetahuan itu sendiri menghambat perkembangan subjektivitas tertentu dan cara manusia menjalani kehidupan ini. Persepsi terhadap pengetahuan menjadi penting karena akan menunjukkan bagaimana perbedaan-perbedaan konsep pengetahuan yang emansipatoris mungkin akan ditolak oleh orang yang mendapatkan keuntungan darinya. Dalam hal ini, masyarakat tertindas mendapatkan akses terhadap logika dominasi yang dikarenakan mereka mempertahankan pengetahuan yang bertentangan dengan pandangan dunia mereka. Pengetahuan justru turut mempertahankan status quo dominasi ini karena menjadi kekuatan aktif yang bersifat negatif dan menolak untuk melihat adanya kemungkinan lain dalam kehidupan ini.<br />
	Pendidikan sebagai suatu proses menuju pendewasaan individu, sudah seharusnya netral. Dalam artian pendidikan seharusnya tidak dicampur adukkan dengan aspek-aspek kepentingan golongan dan politis. Belakangan pendidikan malah berfungsi sebagai alat untuk merubah sistem budaya dan politik. Pendidikan seharusnya mampu mempertahankan lokalitas budaya tempat individu tinggal, agar nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang telah tumbuh sejak lama tetap dapat berdampingan dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi.<br />
Jika kita tarik ke dalam konteks Indonesia, pendidikan pasca kemerdekaan sepenuhnya diatur oleh pemerintah dengan standar-standar yang telah ditetapkan tanpa memperhatikan keberagaman dan kelokalitasan individu. Pemerintah menguasai sistem pendidikan dengan tujuan agar terjadi kesamarataan standar kognitif bagi setiap individu. Bentuk dominasi kekuasaan yang tidak langsung ini dilanjutkan secara langsung dalam pengimplementasiannya oleh para tenaga pendidik. Karena standar yang harus dipenuhi, maka pendidik melakukan kekuasaan terhadap siswa dalam proses pencerdasan. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat guru sebagai tenaga pendidik memiliki kewajiban untuk mencapai target yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam pengertian lain, secara tidak langsung pendidikpun dijadikan sebagai aktor penguasa dan penentu pencerdasan kognitif siswanya.<br />
Kekuasaan dalam pendidikan pada dasarnya merupakan suatu hal yang mutlak ketika konstitusi kita memutuskan untuk melembagakan dan melegalkan pendidikan dalam suatu peraturan. Karena walau bagaimanapun juga pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu negara adalah pemerintah dan konstitusi, dan peraturan merupakan bentukan dari konstitusi tersebut. Namun, yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana cara agar kekuasaan tersebut dapat memberikan dan memfasilitasi hak-hak peserta didik dengan baik. Kita tidak dapat menafikkan bahwa tanpa adanya kekuasaan yang mengatur maka kehidupan akan berjalan tidak teratur. Namun, yang lebih penting dari itu adalah menciptakan suatu kondisi kekuasaan yang tidak mendominasi dan memaksa sehingga kebutuhan dan hak-hak peserta didik dapat dipenuhi dengan baik tanpa adanya suatu bentuk opresi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=80&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/menggugat-bentuk-kekuasaan-dan-dominasi-dalam-sistem-pendidikan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meletakkan Kembali Dasar Pendidikan Humanis dalam Sistem Pendidikan Nasional</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/meletakkan-kembali-dasar-pendidikan-humanis-dalam-sistem-pendidikan-nasional/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/meletakkan-kembali-dasar-pendidikan-humanis-dalam-sistem-pendidikan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 13:55:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/meletakkan-kembali-dasar-pendidikan-humanis-dalam-sistem-pendidikan-nasional/</guid>
		<description><![CDATA[Hakikat pendidikan humanis adalah suatu upaya pemanusiaan manusia muda, peningkatan manusia muda ke taraf insani, bantuan dan bimbingan bagi anak yang sedang berjalan menuju manusia yang lebih sempurna dan lebih insani, serta membantu anak didik ke kemanusiannya. Oleh karena itu, pendidikan yang memanusiakan manusia adalah sebuah keharusan yang harus terus-menerus digelar, karena ini menjadi prinsip [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=79&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hakikat pendidikan humanis adalah suatu upaya pemanusiaan manusia muda, peningkatan manusia muda ke taraf insani, bantuan dan bimbingan bagi anak yang sedang berjalan menuju manusia yang lebih sempurna dan lebih insani, serta membantu anak didik ke kemanusiannya. Oleh karena itu, pendidikan yang memanusiakan manusia adalah sebuah keharusan yang harus terus-menerus digelar, karena ini menjadi prinsip dasar bagi keberhasilan pendidikan sebagai upaya pencerdasan kehidupan bangsa. Pendidikan yang memanusiakan manusia merupakan tulang punggung bagi majunya sebuah bangsa karena faktor tersebut mendominasi penetuan arah perjalanan sebuah bangsa.<br />
	Ketika membicarakan humanisme pendidikan, maka tidak akan terlepas dari manusia sebagai subjek humanisme. Manusia yang merupakan makhluk otonom memiliki kehendak, kemauan, dan keinginan. Manusia merupakan makhluk yang unik dan “complicated” yang memiliki keragaman kepentingan antara satu dan yang lain guna menentukan arah perjalanan hidupnya. Manusia tidak dapat dipaksakan dengan faktor eksternal agar menjadi seseorang yang bertentangan dengan keinginannya yang bersifat internal, namun dalam diri manusia itu akan memiliki tujuan hidup bagi dirinya. Faktor eksternal hanya memberikan ruang dan jalan sekaligus inspirasi agar dapat disesuaikan dengan kepentingan tujuan hidupnya yang bersifat internal.<br />
	Berdasarkan hal tersebut di atas, maka manusia tidak dapat dipaksakan untuk mengikuti kehendak dari pihak luar agar mengikutinya karena ini bertentangan dengan hak otonom manusia sebagai makhluk yang bebas dari segala bentuk pengekangan diri. Dalam pengertian lain, manusia adalah subjek atau pribadi yang memiliki hak cipta, rasa dan karsa yang mengerti dan menyadari keberadaannya. Yang dapat mengatur, menentukan, dan menguasai dirinya. Manusia merupakan makhluk yang memiliki kehendak dan memiliki dorongan untuk mengembangkan pribadinya menjadi lebih baik. Dalam proses pengembangan dan penyempurnaan pribadinya, manusia hanya dapat membentuk, mengembangkan, dan menyempurnakan dirinya. Manusia tidak dapat menyempurnakan manusia lain. Namun, yang dapat dilakukan adalah membantu menciptakan kondisi dan peluang yang memungkinkan orang lain mengembangkan diri melalui pengalamannya.<br />
	Oleh karena itu, pendidikan humanis merupakan pendidikan yang mampu menuju kemanusiaan manusia, yaitu ketika pendidik mampu dan dapat mengakui sekaligus menempatkan atau memperlakukan anak didik sebagai subjek atau pribadi. Pengakuan tersebut kemudian diwujudkan dalam proses pembelajaran yang memberi kesempatan pada anak didik seluas-luasnya agar mereka dapat mengembangkan diri sehingga potensi pribadi dan sikapnya berkembang menuju ke taraf yang lebih baik atau sempurna. Anak didik harus diperlakukan sebagai subjek yang memiliki peran sendiri, dan dapat mengatur kegiatannya sendiri, bukan sebagai objek yang segalanya ditentukan oleh pendidik atau diperlakukan secara sewenang-wenang sesuai kepentingan pendidik.<br />
	Dalam pendidikan yang humanis, istilah pembelajaran jauh lebih tepat dan manusiawi dibandingkan dengan pengajaran. Karena pembelajaran lebih demokratis dan menghargai perbedaan setiap anak didik. Di dalam pembelajaran ada dialog yang cukup kondusif dan dinamis antara pendidik dan peserta didik, selain itu harus juga tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan membangkitkan semangat untuk terus menerus belajar. Dan yang  lebih penting adalah, ada ruang kebebasan bagi setiap anak didik untuk bertanya, berpendapat, dan memberikan masukan terhadap setiap materi yang disampaikan oleh pendidik. Jika beberapa hal tersebut terpenuhi, maka pembelajaran akan mengesankan sebuah proses pendidikan yang hidup. Dalam pembelajaran juga ada bentuk penghargaan dari pendidik ke peserta didik.<br />
	Pendidikan yang humanis atau pendidikan yang memanusiakan adalah apabila pendidikan itu didasarkan atas keterlibatan anak didik dalam proses pendidikan sehingga lama kelamaam akan menumbuhkan sumbangan positif atau kecintaan untuk ingin belajar. Meminjam konsep pendidikan yang humanis dari Sastrapratedja, maka pada dasarnya pendidikan bertujuan untuk membangun tiga kekuatan dalam diri individu:<br />
1.	Power to, yang merupakan kekuatan kreatif yang membuat seseorang mampu dan mau untuk melakukan sesuatu.<br />
2.	Power with, membangun solidaritas atas dasar komitmen pada tujuan yang sama guna memecahkan permasalah yang dihadapi dan guna menciptakan kesejahteraan bersama.<br />
3.	Power within, kekuatan spiritual yang ada dalam anak didik guna membuat manusia lebih manusiawi.<br />
Berdasarkan pemaparan di atas maka pendidikan harus mampu melahirkan pemberdayaan terhadap anak didik sehingga mereka dapat menggali potensi dan bakatnya secara sendiri dan mandiri tanpa harus terlalu mendapatkan panduan dengan sedemikian ketat dan padat dari tenaga pendidik.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=79&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/meletakkan-kembali-dasar-pendidikan-humanis-dalam-sistem-pendidikan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidik yang Memanusiakan Anak Didik</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/pendidik-yang-memanusiakan-anak-didik/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/pendidik-yang-memanusiakan-anak-didik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 13:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/pendidik-yang-memanusiakan-anak-didik/</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi seorang tenaga pendidik berarti menjadi penentu dari sebuah keberhasilan peserta didiknya. Pada hakikatnya peran pendidik adalah sebagai korektor, inspirator, informator, organisator, motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, mediator, supervisor, dan evaluator. Yang semuanya ini memerlukan suatu keterbukaan dan bersedia menempatkan diri pendidik secara demokratis di depan anak didiknya. Pendidik tidak boleh melakukan dominasi pembicaraan dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=78&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi seorang tenaga pendidik berarti menjadi penentu dari sebuah keberhasilan peserta didiknya. Pada hakikatnya peran pendidik adalah sebagai korektor, inspirator, informator, organisator, motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, mediator, supervisor, dan evaluator. Yang semuanya ini memerlukan suatu keterbukaan dan bersedia menempatkan diri pendidik secara demokratis di depan anak didiknya. Pendidik tidak boleh melakukan dominasi pembicaraan dalam segala hal. Dalam menyampaikan pola pembelajaran di dalam kelas, maka pola pengajaran partisipatif mutlak harus dilaksanakan oleh seorang tenaga pendidik. Pendidikan yang partisipatif merupakan proses pendidikan yang melibatkan semua komponen pendidikan, khususnya anak didik. Model pendidikan seperti ini bertumpu terutama pada nilai-nilai demokrasi, pluralisme, dan kemerdekaan manusia (peserta didik).<br />
	Dengan landasan tersebut, maka fungsi seorang pendidik lebih berperan sebagai fasilitator yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi anak-anak didik untuk berekspresi, berdialog, dan berdiskusi. Pendidikan kemudian berfungsi memberikan kebebasan dan kemerdekaan anak didik sehingga potensi-potensi yang dimiliki anak didik dapat dikembangkan dan berkembang lebih baik. Pendidik hendaknya memandang anak didik sebagai kumpulan individu yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri yang tidak dapat disamakan antara satu dengan lainnya. Berdasakan hal tersebut, maka salah satu ukuran penting untuk menilai keberhasilan pendidikan yang digelar pendidik adalah sejauh mana seorang pendidik mampu mengeksplorasi kecerdasan, minat, dan bakat anak didik serta mengembangkannya dengan baik agar kelak siswa mampu berpartisipasi dalam lingkungan sosial.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=78&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/03/pendidik-yang-memanusiakan-anak-didik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru Harus Demokratis dalam Bentuk Dialogis</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/02/guru-harus-demokratis-dalam-bentuk-dialogis/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/02/guru-harus-demokratis-dalam-bentuk-dialogis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 16:27:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Sejak didirikannya negara ini bangsa Indonesia mulai belajar untuk hidup berdemokrasi. Dan untuk menunjang kemajuan dalam proses hidup berdemokrasi, maka amatlah jelas bahwa pendidikan merupakan ujung tombak dari pelaksanaan demokrasi. Melalui pendidikan yang demokratis diharapkan anak didik dapat dibantu untuk mengembangkan sikap demokratis yang nantinya berguna bagi hidup mereka di masyarakat. Karena, jika peserta didik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=75&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak didirikannya negara ini bangsa Indonesia mulai belajar untuk hidup berdemokrasi. Dan untuk menunjang kemajuan dalam proses hidup berdemokrasi, maka amatlah jelas bahwa pendidikan merupakan ujung tombak dari pelaksanaan demokrasi. Melalui pendidikan yang demokratis diharapkan anak didik dapat dibantu untuk mengembangkan sikap demokratis yang nantinya berguna bagi hidup mereka di masyarakat. Karena, jika peserta didik lewat pendidikan dibantu hidup dan bersikap demokratis, maka proses demokrasi Indonesia akan lebih cepat terwujud.</p>
<p>Berdasarkan hal itu semua, maka arah pendidikan nasional harus menuju pada kurikulum yang demokratis. Yang mampu memfasilitasi siswanya dengan pendidikan-pendidikan yang demokratis. Agar pendidikan menjadi demokratis maka yang sangat penting adalah bahwa guru harus demokratis dalam bentuk dialogis dalam proses belajar mengajar. Karena model pembelajaran yang otoriter dan adanya dominasi antara guru terhadap murid tidak akan membentuk kepribadian siswa yang positif justru sebaliknya. Model pembelajaran <em>Banking System</em> yang dikemukakan oleh Freire di mana guru dianggap tahu segala-galanya, dan siswa hanya menerima pasif saja, di era globalisasi ini sangat sulit untuk diterapkan. Mengingat siswapun akan menolak sistem ini jika kelak terjadi padanya. Karena, model pembelajaran dengan pencekokkan  pengetahuan dan nilai-nilai dari guru kepada murid sudah bukan zamannya lagi. Proses belajar mengajar kini dituntut untuk lebih demokratis di mana guru dan siwa saling belajar, saling membantu, dan saling melengkapi. Kerena dengan perkembangan teknologi, kini guru bukanlah sumber satu-satunya dalam perolehan informasi.</p>
<p>Teori konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan itu merupakan bentukkan siswa, peran guru lebih ditekankan sebagai fasilitator yang membantu atau memfasilitasi anak didik agar belajar sendiri membangun pengetahuan mereka.<a href="#_ftn1">[1]</a> Karena perannya sebagai fasilitator, maka guru diharapkan bersikap dialogis, mendengarkan, memberikan kebebasan dan kesempatan kepada siswa untuk aktif belajar dan mengungkapkan gagasan dan ide mereka. Model pendekatan demokratis dan dialogis sebagai fasilitator hanya mungkin terjadi apabila guru  mau mengubah paradigma mengajar mereka, dari proses mengajar ke mambantu siswa.</p>
<p>Transformasi paradigma ini juga berlaku pada penanaman nilai, bukan hanya sekedar pengajaran pengetahuan. Nilai-nilai dalam kehidupan dicari dan dirumuskan bersama antara siswa dan guru. Dengan metode ini siswa akan lebih merasa menemukan nilai itu sehinggaa akan lebih bertanggung jawab dalam melakukan nilai tersebut dalam hidup mereka.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Paul Suparno, <em>Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan</em>, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm 63.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=75&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/02/guru-harus-demokratis-dalam-bentuk-dialogis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengembalikan Peran Guru dalam Sistem Pendidikan Nasional</title>
		<link>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/02/mengembalikan-peran-guru-dalam-sistem-pendidikan-nasional/</link>
		<comments>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/02/mengembalikan-peran-guru-dalam-sistem-pendidikan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 16:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>filsufgaul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://filsufgaul.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Telah dijelaskan sebelumnya peran pendidik dalam kerangka Paulo Freire adalah sosok yang setara dengan peserta didik yang memfasilitasi peserta didik dalam upaya memperoleh informasi. Hubungan yang dibangun haruslah hubungan yang bersifat dialogis tanpa adanya suatu dominasi di antara kedua belah pihak. Dalam sistem pendidikan nasional, memang telah diatur secara legal bahwa peran guru adalah sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=73&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah dijelaskan sebelumnya peran pendidik dalam kerangka Paulo Freire adalah sosok yang setara dengan peserta didik yang memfasilitasi peserta didik dalam upaya memperoleh informasi. Hubungan yang dibangun haruslah hubungan yang bersifat dialogis tanpa adanya suatu dominasi di antara kedua belah pihak. Dalam sistem pendidikan nasional, memang telah diatur secara legal bahwa peran guru adalah sebagai fasilitator, namun pada aplikasinya masih banyak guru yang mendominasi peserta didik dalam perolehan suatu informasi. Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan hakikat peran guru dalam mencerdaskan peserta didik dalam kerangka Freire.</p>
<p>Jika kita kaitkan pendidikan dengan perkembangan zaman yang menuntut kemajuan teknologi informasi yang canggih. Maka tantangan pendidikan Indonesia ke depan berkaitan dengan peran guru sebagai tenaga pencerdas siswa menjadi lebih kompleks tidak hanya permasalahan dominasi dan posisi pendidik dan terdidik dalam proses pendidikan. Guru juga dituntut untuk mampu membentengi siswa dari berbagai unsur negatif dari perkembangan zaman tersebut. Tidak hanya itu, tantangan pendidikan yang amat kompleks tersebut menuntut guru untuk memiliki karakter dan sifat tertentu seperti berdedikasi tinggi, demokratis, professional, dan yang lebih penting adalah hasrat pendidik harus merupakan suatu panggilan hidup.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/filsufgaul.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/filsufgaul.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/filsufgaul.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/filsufgaul.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/filsufgaul.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/filsufgaul.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/filsufgaul.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/filsufgaul.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/filsufgaul.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/filsufgaul.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/filsufgaul.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/filsufgaul.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/filsufgaul.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/filsufgaul.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=filsufgaul.wordpress.com&amp;blog=2665241&amp;post=73&amp;subd=filsufgaul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://filsufgaul.wordpress.com/2009/09/02/mengembalikan-peran-guru-dalam-sistem-pendidikan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c24db49a637fc2ad556e41e49c8bb393?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">filsufgaul</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
