Urgensi Pengimplementasian Nilai-Nilai Filosofis yang Terkandung dalam Logo Perpustakaan Nasional Sebagai Upaya Pembinaan dan Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah Sebagai “Jantung Pendidikan” Menuju Alternatif Utama Literasi Bagi Siswa
Andy Setyawan[1]
The worth of a state, in the long run is the worth of individuals composing it.
(John Stuart Mill)
Begitupula dengan nilai atau keberhasilan dari suatu lembaga bernama Perpustakaan Nasional dalam jangka panjang, merupakan kumpulan dari keberhasilan dari perpustakaan-perpustakaan yang ada di bawahnya dalam hal ini perpustakaan sekolah.
Perpustakaan dalam historisitasnya telah mengalami perkembangan, hal tersebut banyak disebabkan oleh perkembangan zaman dan pergeseran pemikiran dari masa ke masa. Dahulu perpustakaan hanya sebagai suatu tempat berisi buku-buku yang diatur untuk dibaca, dipelajari, atau dipakai sebagai bahan rujukan, pengertian ini digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1374. (The Oxford English Dictionary) Pada abad 19 pengertian tersebut berkembang menjadi “ suatu gedung, ruangan, atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yang dipelihara dengan baik, dan dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu”. Di era postmodern ini, pengertiannya semakin berkembang menjadi “salah satu sarana pelestarian bahan pustaka, sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional” (KepRes RI No 11).
Saat ini, Indonesia mempunyai pusat literasi nasional yang disebut “Perpustakaan Nasional”. Perpustakaan Nasional pada dasarnya merupakan lembaga pemerintah non departemen, yang merupakan lembaga di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden, yang dalam melaksanakan tugas operasionalnya dikoordinasikan oleh menteri Pendidikan Nasional, serta memiliki tugas pemerintahan dibidang perpustakaan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku. (SK Kaperpusnas No. 03/2001) Pada dasarnya, Perpustakaan Nasional bertugas memfasilitasi perpustakaan-perpustakaan yang ada di bawahnya. Hal ini sesuai dengan salah satu misinya yaitu: Membina, mengembangkan, dan mendayagunakan semua jenis Perpustakaan yang ada di Indonesia. Salah satu perpustakaan yang ada di bawah Perpustakaan Nasioal adalah Perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah pada dasarnya merupakan perpustakaan yang ada di sekolah, yang fungsinya menyediakan informasi dan ide yang merupakan dasar keberhasilan fungsional dalam masyarakat masa kini yang berbasis pengetahuan dan informasi. Perpustakaan sekolah membekali murid berupa keterampilan pembelajaran sepanjang hayat serta imajinasi, dan memungkinkan mereka hidup sebagai warganegara yang bertanggungjawab.(UNESCO)
Pengertiaan perpustakaan sekolah yang telah dipaparkan, tentunya sejalan dengan visi Perpustakaan Nasional yaitu memberdayakan potensi perpustakaan dalam meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Namun, seiring dengan perkembangannya Perpustakaan Nasional terkesan hanya sebagai lembaga yang merawat, serta menjaga literatur penting yang berhubungan dengan dokumen-dokumen kenegaraan, agar dapat dimanfaatkan oleh generasi-generasi di masa yang akan datang. Namun, dalam perkembangannya, ternyata Perpustakaan Nasional hanya dapat diakses oleh sebagian orang tertentu. Sejauh ini, Perpustakaan Nasional dirasa masih kurang berperan langsung dalam upaya pencerdasan generasi muda. Misalnya, Perpustakaan Nasional belum banyak memiliki buku-buku yang diperuntukkan untuk siswa SMP maupun SD. Padahal, anak-anak itulah yang merupakan cikal bakal generasi penerus bangsa. Secara struktural perpustakaan sekolah memang mempunyai koordinasi langsung dengan Perpustakaan Nasional yang berada di bawah Deputi bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, melalui pusat pengembangan perpustakaan dan pengkajian minat baca, yang bertugas mengembangkan dan membina perpustakaan sekolah. Berdasarkan struktur tersebut, seharusnya sudah menjadi salah satu tanggung jawab Perpustakaan Nasional untuk mengembangkan, serta membina perpustakaan sekolah sebagai pusat alternatif literasi bagi siswa, khususnya siswa SMP dan SMA. Namun, kini pertanyaan yang timbul, apakah Perpustakaan Nasional telah memaksimalkan fungsinya untuk mengembangkan serta membina perpustakaan sekolah menjadi perpustakaan yang layak sebagai sumber alternatif literasi bagi siswa?
Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Kepala Departemen Ilmu Perpustakaan fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada Desember 2003. Dikatakan bahwa terungkap sekitar 20 persen siswa menyatakan sekolahnya tidak memiliki perpustakaan. Dengan kata lain, dari 50 sekolah yang diteliti, delapan sekolah dianggap tidak memiliki perpustakaan. Cukup banyaknya sekolah yang tidak memiliki perpustakaan, lebih disebabkan karena ketidakpeduliaan sekolah untuk membangun fasilitas dan menambah literatur berupa buku-buku baru yang bermanfaat bagi siswa. Ketidakpedulian sekolah ini juga disebabkan karena sekolah lebih mengutamakan pembangunan fisik seperti: pengadaan pendingin (AC), merenovasi sekolah, membeli perlengkapan belajar yang baru seperti bangku, kursi, atau yang lainnya. Tidak sedikit ditemui ruang perpustakaan yang menyatu dengan ruang ekskul seperti PMR, OSIS, dan lain-lain, yang juga meletakkan peralatan ekskul mereka di perpustakaan. Alhasil, perpustakaan menjadi selayaknya gudang yang serbaguna, sebagai penyimpan buku-buku literatur, dan juga sebagai tempat menyimpan peralatan-peralatan ekskul.
Dari realitas tersebut, tentunya kita dapat menjawab pertanyaan yang telah kita ajukan sebelumnya tentang optimalisasi Perpustakaan Nasional dalam membina serta mengembangkan perpustakaan sekolah. Dalam sejarahnya, Perpustakaan Nasional memiliki Logo dengan nilai filosofis tinggi. Namun, kini yang terlihat upaya pengimplementasian makna filosofis dari logo tersebut belum teraplikasikan dengan baik. Padahal, makna yang terkandung pada logo Perpustakaan Nasional, memuat cakupan yang luas dalam upaya memberdayakan perpustakaan sekolah di negeri ini. Oleh karena itu, pengungkapan makna filosofis yang di lanjutkan dengan pengimplementasian makna tersebut, mutlak diperlukan dalam mengungkap kembali hakikat dari fungsi Perpustakaan Nasional sebagai “induk” dari perpustakaan-perpustakaan yang ada di bawahnya, dengan satu tujuan yaitu mencerdaskan generasi muda penerus perjuangan pendiri bangsa.
Lambang Perpustakaan Nasional
BUKU TERBUKA
melambangkan sumber ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang
Pada hakikatnya buku memang merupakan sumber ilmu, sumber pegangan sebagai pedoman bagi manusia untuk mencapai tujuan hidupnya. Dari buku, kita akan mendapatkan banyak informasi yang kita butuhkan, sehingga akan manjadi jalan pintas bagi kita untuk mencapai cita-cita kita. Bayangkan, jika tidak ada buku yang membantu kita dalam meraih cita-cita kita, alhasil pencapaian ke cita-cita kita akan berlangsung lama karena tidak ada pemandu bagi kita untuk mempercepat perolehan informasi. Sebagai contoh, hampir semua kitab suci pemeluk agama yang ada di muka bumi ini baik agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lain-lain, yang mereka akui sebagai pedoman hidup mereka di dunia ini berupa buku. Begitu besarnya fungsi buku bagi kehidupan manusia. Namun, buku tidak akan memiliki fungsi apa-apa jika ia dalam keadaan tertutup, tertutupnya buku sudah pasti dikarenakan tidak ada yang membukanya untuk dibaca. Buku yang tertutup tidak akan memberikan manfaat apa-apa, walaupun informasi yang dimuat di dalamnya sangat penting untuk dipelajari dan diaplikasikan. Sebaliknya, buku yang terbuka dan sengaja untuk dibaca, akan memberikan banyak informasi dan manfaat. Sehingga, kemungkinan untuk menimbulkan suatu teori baru yang merujuk dari buku tersebut sangat di mungkinkan. Bayangkan, karena buku seorang dokter dapat menyelamatkan nyawa pasiennya, seorang sarjana teknik dapat membuat pesawat terbang untuk kemudahan transportasi antar negara, seorang Zacharias Janssen dapat menemukan mikroskop untuk meneliti berbagai macam bakteri dan virus yang ada. Dan tak heran, jika buku dapat di analogikan sebagai pahlawan yang akan membantu kita menyelesaikan permasalahan kita. Namun, tetap dalam konteks bahwa buku tersebut harus dimanfaatkan dalam artian dibaca, dan bukan hanya sekedar menjadi koleksi perpustakaan semata.
Baik Perpustakaan Nasional maupun perpustakaan sekolah sama-sama menjadikan buku sebagai objek kajiannya. Siswa sebagai subjek pendidikan, selain memerlukan guru sebagai salah satu sumber informasi, juga memerlukan buku sebagai sumber literatur utama dalam proses pembelajaran. Saat ini, kita tidak boleh hanya mengandalkan informasi dari guru, karena guru juga hanyalah seorang manusia yang mungkin luput dari kesalahan, kesalahan dalam menghapal informasi, kesalahan dalam merujuk, dan lain-lain. Oleh karena itu, buku sudah sepatutnya menjadi sumber rujukan utama bagi siswa, dan peran guru sudah seharusnya berganti menjadi fasilitator yang memfasilitasi muridnya untuk mendapatkan informasi melalui buku.
Kemudahan untuk mengakses informasi melalui buku mutlak diperlukan di dalam institusi yang bernama sekolah. Perpustakaan sekolah menjadi wadah utama bagi siswa untuk memperoleh informasi. Oleh karena itu, setiap sekolah mutlak harus memiliki perpustakaan untuk menunjang proses belajar mengajar. Hal tersebut tentunya perlu diimbangi dengan cukupnya kuantitas serta kualitas buku yang diakses oleh para siswa tersebut. Realitas yang ada sekarang, pihak sekolah cenderung tidak memperbanyak perbendaharaan referensi buku, dikarenakan sekolah menggunakan buku paket yang diperoleh dari satu penerbit tertentu. Dan tak jarang pihak sekolah telah menjalin kerjasama yang cukup lama dengan satu penerbit, dengan alasan kecocokan antara pihak sekolah dengan pihak penerbit. Alhasil, minimnya perbendaharaan buku yang dimiliki sekolah tersebut karena hanya terpaku pada satu penerbit saja. Dan pada kasus ini, siswalah yang akan dirugikan karena minimnya literatur yang mereka miliki di sekolah, sehingga berdampak pada sedikitnya informasi yang akan mereka dapatkan. Padahal, di perpustakaan sekolahlah seharusnya siswa memperoleh literatur pertama, bukan di tempat lain. Keadaan seperti ini diperburuk dengan sekolah yang tidak memiliki perpustakaan sekolah, misalnya sekolah-sekolah di daerah terpencil yang minim akan sarana dan prasarana.
Pada saat seperti inilah, peran Perpustakaan Nasional untuk meluruskan serta memperbaiki sistem perpustakaan sekolah yang ada selama ini. Pembinaan tentang penyelenggaraan perpustakaan sekolah yang baik, mutlak diperlukan untuk mewujudkan perpustakaan sekolah yang layak menjadi sumber literasi siswa di sekolah. Bantuan berupa pemberian buku-buku baru yang berkualitas, dan buku yang tidak dimiliki oleh sekolah, seharusnya menjadi suatu program wajib yang harus dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional secara berkala. Perpustakaan Nasional juga dapat membantu mewujudkan perpustakaan sekolah bagi sekolah yang belum memiliki perpustakaan di sekolahnya, dengan cara mengadakan penyuluhan yang subjeknya adalah masyarakat sekitar sekolah tersebut. Dengan maksud bahwa pengadaan perpustakaan sekolah bukan hanya merupakan tanggung jawab sekolah untuk mengadakannya, namun juga merupakan tanggung jawab masyarakat sekitar. Hal ini mengacu kembali bahwa pada hakikatnya upaya mencerdasakan bangsa adalah tanggung jawab semua warga negara dan seluruh lapisan masyarakat.
NYALA OBOR
melambangkan pelita dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa
Pelita dalam makna filosofis nyala obor dan perpustakaan merupakan suatu upaya memberikan manfaat bagi setiap orang yang terkena pancarannya, pelita dalam hal ini diwujudkan dengan obor. Sebagai pelita, Perpustakaan Nasional sudah seharusnya dapat memberikan penerangan dan pencerahan bagi orang yang diteranginya melalui informasi yang dimilikinya. Namun, kini kendalanya, seberapa jauh jangkauan sinar yang mampu diterangi oleh Perpustakaan Nasional, dan seberapa lama Perpustakaan Nasional mampu menerangi masyarakat dalam mencapai cita-citanya. Jangkauan sinar pada dasarnya dapat diperlebar dengan meninggikan letak obor tersebut, dan lama sinar dapat diperlama dengan menambahkan isi atau bahan bakar dari obor itu sendiri. Setiap orang tentunya akan tergantung pada pelita tersebut, tanpa pelita orang akan buta, buta akan aksara, dan akan sulit untuk menggapai cita-citanya. Semakin dekat seseorang terhadap pelita tersebut, maka cahaya yang akan mereka dapat akan semakin terang. Sebaliknya, semakin jauh seseorang dari pelita, maka cahaya yang akan mereka dapat akan berkurang. Oleh karena itu, saat ini yang terpenting adalah, bagaimana membuat setiap orang mendapat intensitas pencahayaan yang sama dari suatu pelita. Salah satu caranya adalah membangun jaringan pelita baru yang tersebar di seluruh daerah, yang tentunya jaringan-jaringan tersebut mengacu pada pelita utama yaitu pelita Perpustakaan Nasional.
Tentunya sebagai satu-satunya perpustakaan yang bertaraf nasional, dan yang menyimpan berbagai dokumen penting negara. Perpustakaan Nasional tidak mampu untuk melayani permintaan akan kebutuhan literatur bagi masyarakat yang berada jauh dari Perpustakaan Nasional, seperti di pulau kalimantan, sulawesi, sumatra, Irian Jaya, apalagi yang berada di daerah pedalaman. Memang, sekarang Perpustakaan Nasional telah memiliki website yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat guna mendapatkan informasi akan literatur, namun tentu saja terdapat keterbatasan dalam proses pengaksesan literatur tersebut. Karena, jika kita ingin mengakses literatur misalnya sebuah buku melalui website, maka yang akan ditampilkan hanya keterangan letak buku tersebut di perpustakaan, dan hanya sedikit yang memuat resensi dari buku tersebut. Oleh karena itu, perlunya suatu jaringan-jaringan perpustakaan di tiap daerah yang di implementasikan dalam perpustakaan sekolah, yang kurang lebih memiliki koleksi yang hampir sama dengan yang dimiliki oleh Perpustakaan Nasional. Memiliki koleksi yang sama dalam artian, Perpustakaan Nasional harus memiliki standar literatur bagi tiap jenjang pendidikan semisal SMP dan SMA, yang dapat dijadikan rujukan bagi perpustakaan sekolah dalam hal pengadaan sumber literatur bagi siswa. Jika setiap perpustakaan sekolah memiliki literatur dengan standar yang hampir sama dengan yang dimiliki Perpustakaan Nasional, maka keterbatasan dalam mengakses informasi bagi siswa akan dapat diatasi.
Perpustakaan sekolah sebagai jaringan dari Perpustakaan Nasional, yang koleksi literaturnya diharapkan mendekati sama dengan koleksi literatur Perpustakaan Nasional di sini maksudnya, agar setiap perpustakaan sekolah dapat menyediakan literatur bagi siswanya sesuai dengan kebutuhan siswa. Siswa SMP tidak mungkin disediakan literatur berupa buku-buku SMA, begitu pula siswa SMA tidak mugkin disiapkan literatur berupa skripsi mahasiswa perguruan tinggi. Penyamaan standar literatur di sini, lebih ditekankan bahwa koleksi buku pada perpustakaan SMA hendaknya sama dengan koleksi buku-buku yang dimiliki Perpustakaan Nasional yang diperuntukkan bagi siswa SMA. Dalam artian, jumlah keberagaman koleksi serta kualitas buku yang ada di perpustakaan sekolah, hendaknya mendekati sama dengan Perpustakaan Nasional. Dalam konteks ini tentunya Perpustakaan Nasional juga harus bebenah diri untuk menjawab pertanyaan, apakah koleksi literaturnya kini sudah dapat dijadikan standar bahan rujukan bagi pengadaan literatur perpustakaan sekolah ? Siswa di sini bukan berarti tidak diperbolehkan mengakses literatur di luar kompetensinya sebagai siswa. Seperti bukan berarti siswa SMA tidak diperbolehkan membaca literatur yang digunakan mahasiswa. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana cara menciptakan standar kuantitas koleksi serta kualitas literatur yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah. Hal ini penting dilakukan, agar jangan sampai sekolah hanya menyediakan literatur dari satu penerbit saja karena kedekatan pihak sekolah dengan penerbit tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka keberagaman dari koleksi literatur yang dimiliki sekolah tidak akan tercapai. Dan akhirnya, siswa yang akan dirugikan karena mereka tidak dapat mengakses berbagai macam literatur.
Peran Perpustakaan Nasional di sini adalah, berupaya untuk memberikan informasi kepada seluruh sekolah yang ada di Indonesia, tentang buku-buku apa saja yang seharusnya dimiliki oleh setiap sekolah untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar. Pihak sekolahpun diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akan literaturnya sendiri. Peran Perpustakaan Nasional di sini hanya sebagai fasilitator pemenuhan kebutuhan akan literatur di tiap sekolah. Namun, bagi literatur yang sulit untuk di dapat, Perpustakaan Nasional dapat membantu memenuhi kebutuhan akan literatur tersebut dengan menuliskan isi literatur atau resensi dari literatur tersebut ke dalam website Perpustakaan Nasional agar dapat diakses oleh seluruh siswa di mana saja. Bagi sekolah yang memiliki keterbatasan dalam upaya pemenuhan kebutuhan akan literatur. Perpustakaan Nasional dapat memfasilitasi sekolah tersebut untuk mendapatkan literatur dengan cara membuat program “subsidi dari sekolah untuk sekolah”. Bagi sekolah yang standar literaturnya dapat dikatakan baik, dan pemenuhan kebutuhan akan literatur di sekolahnya dapat dikatakan cukup. Maka, sangat diharapkan agar sekolah tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan literatur sekolah yang minim akan literatur. Dan di sini, peran Perputakaan Nasional adalah mendata sekolah-sekolah yang minim akan literatur, dan sekolah yang cukup akan literatur, untuk dapat berbagi literatur dalam mewujudkan pemerataan literatur sekolah di seluruh Indonesia. Jika hal tersebut dapat dilakukan maka setiap daerah di Indonesia dapat terkena pelita Perpustakaan Nasional.
DUA TANGAN TERKATUP DENGAN LIMA JARI MENOPANG
melambangkan ilmu pengetahuan baru dapat dicapai melalui pembinaan pendidikan seutuhnya dengan ditunjang oleh sarana pustaka yang lengkap
Tangan memang selalu diidentikkan dengan kegiatan memberi dan menerima. Tanganpun juga identik dengan sentuhan yang dapat menimbulkan reaksi terhadap objek yang disentuhnya. Dengan tangan pekerjaan manusia semakin ringan, dan dengan tangan pula manusia dapat merubah dunia. Dengan bantuan tangan, manusia dapat membuka buku dan memperluas wawasan, dengan tangan pula manusia dapat mengakses internet dan menambah pengetahuan, namun dengan satu jari untuk menekan tombol bom atom, seketika itu pula manusia disuatu daerah akan binasa. Penggunaan tangan sebagai pemberian tuhan pada dasarnya akan kembali pada manusia, mau kemana tangan ini di arahkan tergantung dari kehendak manusia itu sendiri. Dengan tangan, manusia dapat memperbaiki dunia. Namun, dengan tangan pula manusia dapat menghancurkan dunia.
Perpustakaan Nasional menggunakan tangan serta jari yang termasuk bagian dari tangan itu sendiri dalam logonya ternyata mempunyai maksud yang sangat luhur, yaitu menggunakan tangan untuk menyentuh masyarakat dengan pembinaan terhadap pendidikan. Perpustakaan Nasional sadar bahwa untuk menuju masyarakat yang berpendidikan, yang dibutuhkan bukan hanya sekedar sosialisasi akan keberadaan dari Perpustakaan Nasional itu sendiri. Namun, bagaimana caranya dengan keberadaan Perpustakaan Nasional dapat memberikan banyak manfaat bagi orang banyak. Salah satu caranya adalah dengan menyentuh langsung kepada objek tujuannya. Banyak cara yang dapat dilakukan seperti memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya budaya gemar membaca, pentingnya mengunjungi perpustakaan, dan lain-lain. Tentunya, untuk merealisasikannya diperlukan literatur yang lengkap agar setiap masyarakat dapat merasakan manfaatnya.
Sama halnya dengan Perpustakaan Nasional, Perpustakaan sekolah juga mempunyai kewajiban untuk menciptakan budaya gemar membaca kepada siswanya. Fungsi dari di adakannya perpustakaan sekolah pada awalnya agar perpustakaan sekolah dapat menjadi pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum, sebagai pusat penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya, dan sebagai pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan). Jika pembinaan akan ketiga fungsi ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka di harapkan pendidikan di Indonesia akan dapat bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Pembinaan kepada siswa bukan hanya merupakan tanggung jawab dari pihak sekolah, namun juga tanggung jawab Perpustakaan Nasional. Kerena upaya pencerdasan bangsa bukan hanya bergantung di tangan seorang guru, namun juga merupakan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia, lembaga, institusi, dan tak luput juga Perpustakaan Nasional yang selama ini dianggap sebagai “gudang literatur Indonesia”.
LIMA DASAR PENUNJANG DAN LIMA SINAR MEMANCAR
Melambangkan dasar falsafah Pancasila dalam ilmu pengetahuan menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya yang berguna bagi nusa dan bangsa
Pancasila memang selalu digunakan sebagai landasan dalam memaknai sesuatu. Karena di dalam tiap butirnya, Pancasila telah memiliki nilai filosofis dan historisitas yang tinggi. Di dalamnya telah termuat nilai humanistis dan keilahian. Sangat wajar sekali jika suatu lembaga atau organisasi dalam membuat visi serta misinya diilhami dari Pancasila. Banyak kecocokan antara Pancasila dengan visi dan misi dari perpustakaan Nasional. Sila pertama Pancasila tentunya menjadi ilham bagi Perpustakaan Nasional bahwa segala ilmu yang berakar dari rasio kita merupakan ciptaan dari tuhan, dan sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai makhluk ciptaan tuhan memanfaatkan ilmu yang kita miliki, untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di muka bumi ini untuk kemaslahatan masyarakat. Sila kedua mencerminkan bahwa ilmu akan menjadikan manusia beradab dan mampu untuk bersikap adil terhadap sesama. Sila ketiga melambangkan dengan adanya ilmu, manusia diharapkan ada dalam kesatuan dan tidak terpecah belah, serta dapat menyelesaikan permasalahan yang ada berdasar atas ilmu yang dimiliki. Dalam sila ke empat, diharapkan ilmu dapat menumbuhkan kebijaksanaan dalam kehidupan manusia, bijaksana dalam memimpin, dan bijaksana pula dalam upaya mentaati pimpinan. Dan terakhir ilmu diharapkan dapat menciptakan suatu keadilan sosial. Dengan adanya ilmu, tidak diharapkan terjadinya perpecahan antar umat manusia karena berlomba-lomba mengejar ilmu untuk menunjukkan bangsa atau rasnya yang paling hebat. Dengan adaya ilmu, diharapkan dapat memperbaiki martabat manusia sebagai makhluk yang paling agung di muka bumi ini.
Perpustakaan Nasional mengusung Pancasila sebagai dasar pembentukan lembaga, merupakan pilihan tepat dalam upaya mencerdaskan bangsa. Dengan adanya Perpustakaan Nasional, diharapkan dapat menjadi wadah untuk menampung ilmu yang diberikan tuhan kepada manusia. Ilmu yang diharapkan dapat menumbuhkan sikap kemanusiaan yang beradab, menimbulkan persatuan, kebijaksanaan, serta keadilan. Dan kini, pada era postmodern, terwujudnya keadaan tersebut difasilitasi oleh perpustakaan. Jadi, dalam hal ini perpustakaan memegang peranan penting dalam memperbaiki kehidupan bangsa. Tentunya cita-cita untuk mengubah manusia Indonesia ke arah yang lebih baik tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Perpustakaan Nasional. Lembaga pendidikanpun juga harus membantu mengimplementasikan cita-cita ini dalam wujud perpustakaan sekolah. Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang akan meneruskan perjuangan para pendiri bangsa ini, pengaksesan informasi mutlak diperlukan dalam upaya mencapai ilmu yang sesungguhnya. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah menjadi satuan perpustakaan terkecil namun dapat memberikan manfaaat besar bagi pencerdasan generasi muda.
LATAR BELAKANG LINGKARAN
melambangkan kebulatan tekad dalam usaha mewujudkan pemerataan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia
Lingkaran memang selalu diidentikkan dengan kesatuan dan kebulatan tekad. Bagiannya yang berupa satu sisi melambangkan bahwa hanya ada satu tujuan yang hendak dicapai. Kebulatan tekad juga identik dengan kesepakatan yang tak tergoyahkan oleh apapun. Jadi, Perpustakaan Nasional telah sepakat untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan yang ingin dicapainya adalah pemerataan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam wujud pelestarian sumber-sumber literasi. Sampai kapanpun kesepakatan itu tidak akan luntur dan berpencar dalam arah. Karena, Perpustakaan Nasional selalu dibentengi oleh lingkaran yang kokoh yang tidak memiliki pintu masuk untuk tujuan lain yang tidak sesuai dengan tujuan awal, yaitu berupaya untuk mewujudkan pemerataan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kebulatan tekad untuk pemerataan pendidikan, memang selama ini telah diupayakan oleh Perpustakaan Nasional dalam membantu memenuhi kebutuhan akan literatur bagi masyarakat Indonesia. Namun, pertanyaannya kini apakah seluruh masyarakat Indonesia telah merasakan wujud pemerataan pendidikan tersebut ?. Mungkin masih banyak masyarakat di pedesaan yang belum mengetahui keberadaan dari Perpustakaan Nasional, ataupun sudah pernah mendengar keberadaannya namun belum merasakan manfaatnya secara langsung. Pentingnya sosialisasi kepada masyarakat mutlak diperlukan agar masyarakat mengetahui keberadaan Perpustakaan Nasional dan dapat merasakan manfaatnya. Salah satu caranya adalah pembinaan pengetahuan masyarakat dari yang paling kecil yaitu anak-anak SD sampai SMA dengan program pembinaan perpustakaan sekolah. Masuknya Perpustakaan Nasional dalam struktur perpustakaan sekolah merupakan media pengenalan Perpustakaan Nasional kepada para siswa dan masyarakat. Tentunya bukan hanya sekedar bersosialisasi namun membina sekolah untuk memiliki perpustakaan yang layak untuk disinggahi oleh para siswanya. Pembinaan yang kelak dilakukan, bukan hanya untuk sekolah yang berada di perkotaan, namun juga sekolah-sekolah di pelosok yang minim akan akses informasi. Dengan cara ini, upaya pemerataan pendidikan yang merupakan kebulatan tekad dari Perpustakaan Nasional akan terwujud.
WARNA BIRU
Adalah warna yang memiliki sifat tenang dan memberikan kesan kedalaman. Jadi, pengertian warna biru pada logo Perpustakaan Nasional RI ialah ketenangan berpikir, dan kedalaman ilmu pengetahuan yang dimiliki merupakan landasan pengabdian kepada masyarakat, nusa dan bangsa
Warna biru merupakan warna yang identik dengan air dan laut. Air tentunya mempunyai dua sifat yaitu tenang dan berombak. Tenangnya air jika air tersebut memiliki kedalaman, sedang air yang berombak berarti dangkal. Air yang tenang jauh lebih memberikan manfaat dari pada air berombak, apalagi jika ombak tersebut dapat menimbulkan bencana. Setiap orang diharapkan dapat mempunyai kedalaman dalam berpikir dan tidak serta merta menyimpulkan sesuatu berdasarkan kehendak atau keminiman akan pengetahuan. Berpikir mendalam tentunya memerlukan ketenangan dalam prosesnya, sesuatu yang dikerjakan dengan tergesa-gesa dan tanpa ketenangan, akan menghasilkan sesuatu yang kurang bermanfaat karena keterbatasan waktu dalam pengerjaannya. Kedalaman dalam berpikir dimaksudkan agar kita dapat memberikan banyak ruang bagi rasio kita untuk menerima berbagai referensi, sehingga intensitas perbendaharaan ilmu kita semakin banyak dan tidak bergantung hanya dari satu referensi saja. Hasil yang kelak dicapai, nantinya juga akan berbeda jauh antara pemikiran yang mendalam dengan pemikiran yang dangkal dan tanpa diimbangi banyak referensi. Hasil yang dicapai akan menentukan kualitas dari pemikiran seseorang, dan akhirnya dapat dimanfaatkan oleh orang banyak.
Sebagai perpustakaan yang bertaraf nasional, Perpustakaan Nasional harus mempunyai banyak koleksi referensi untuk dapat dimanfaatkan masyarakat dalam memperkaya ilmunya. Kedalaman yang hendak dicapai oleh Perpustakaan Nasional bermaksud menyediakan banyak ruang untuk menambah koleksi referensi. Ketika kedalaman tersebut telah tercapai, dengan sendirinya Perpustakaan Nasional akan mencerminkan dirinya sendiri, yaitu sebagai pusat literasi yang tidak hanya dapat berbicara di kancah nasional namun juga dapat berbicara di kancah internasional. Dan yang lebih penting, tidak timbulnya sifat yang sombong namun tetap arif, tenang, dan bijaksana dalam memenuhi kebutuhan akan literatur bagi bangsa ini. Perpustakaan sekolahpun diharapkan dapat mengikuti jejak langkah Perpustakaan Nasional dalam memberikan ruang untuk menambah koleksi pustakanya, dengan harapan beragamnya koleksi buku yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah akan menjadikan siswanya memiliki wawasan yang luas dan menumbuhkan siswa yang berpikir tenang dalam mengahdapi sesuatu, tenang dalam artian ia tidak harus terburu-buru dalam memecahkan masalah, harus banyak pertimbangan dari referensi yang dimiliki dalam upaya memecahkan sesuatu. Sehingga, kelak hasil yang dicapai akan baik, dan bermanfaat bagi orang lain. Sekali lagi, di sini peran Perpustakaan Nasional untuk membina perpustakaan sekolah agar memiliki misi yang mendalam dalam mewujudkan keragaman referensi yang dibutuhkan siswa.
Logo Perpustakaan Nasional memang sarat akan makna, setiap lekukaknnya memiliki arti yang mendalam. Makna yang terkandung di dalamnya, banyak memiliki kesamaan dengan tujuan yang ingin dicapai perpustakaan sekolah. Perpustakaan Nasional sebagai induk dari perpustakaan-perpustakaan yang ada dibawahnya sudah seharusnya menjadi pengayom bagi perpustakaan-perpustakaan yang ada di bawahnya. Melalui program pembinaan yang dilakukan Perpustakaan Nasional, nantinya diharapkan dapat menjadikan perpustakaan sekolah sebagai sumber alternatif utama literasi bagi siswa, dan juga sebagai “jantung pendidikan” yang merupakan unsur kehidupan dalam proses pembelajaran.
Sehingga mari…..
Mulai dari diri sendiri
Kita benahi diri kita untuk peduli terhadap perpustakaan
Mulai dari yang kecil
Yaitu memajukan unit perpustakaan terkecil yaitu perpustakaan sekolah
Mulai dari sekarang
Gemar membaca untuk megubah bangsa ini ke arah yang lebih baik
Senarai Rujukan:
Ibrahim, Marwah Daud. Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan. Jakarta: MHMMD Production, 2005.
Martoatmojo,Karmidi. Manajemen Perpustakaan Khusus. Jakarta: Universitas Terbuka, 1997.
———————————-. Pelayanan Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka, 1997.
School Libraries and Resource Centers Section. UNESCO. (www.pikiranrakyat.com)
KepRes RI No 11
SK Kaperpusnas No. 03/2001
The Oxford English Dictionary. 2003
www.pnri.go.id
[1] Penulis adalah mahasiswa departemen Filsafat Universitas Indonesia.

Taekzzz