EKSISTENSIALISME

Setelah perang dunia kedua eksistensialisme menjadi paham yang banyak dianut di berbagai negara. Karya Sartre “L’Etre et le Neant” sangat sulit untuk dipahami dan hanya filsuf-filsuf yang bebar-benar terbiasa berpikir yang dapat mengartikan atau memahami jalan pikiran Sartre. Lebih lanjut eksistensialisme prancis khususnya Sartre mengepresikan pemikirannya lewat novel dan drama. Cara penyampaian melalui drama dan novel banyak menimbulkan kesalahpahaman. Eksistensi dengan sendirinya mengungkapkan dirinya sendiri dengan apa yang sekarang biasa disebut masalah eksistensi manusia seperti apa arti hidup, kematian, dan penderitaan. Sebuah kesalahan bagi filsuf eksistensialis untuk memusatkan pikiran mereka pada eksistensi klasik atau dalam penalaran yang konvensional atau juga dengan benda-benda yang memiliki eksistensi bagi dirinya sendiri. Dan pada akhirnya eksistensi juga diidentikkan dengan salah satu doktrin eksistensialisme manapun  sebagai contoh Sartre. Kita harus melihat perbedaan yang amat sangat tentang sudut pandang di antara individu.

Setidaknya ada empat filsuf kontemporer yang telah dilabeli filsuf atau pemikir eksistensialis: Gabriel Marcel, Karl Jaspers, Martin Heidegger, dan Jean Paul Sartre. Mereka pada dasarnya mengikuti ajaran Kierkegaard. Kierkegaard  merupakan orang yang sangat berpengaruh pada awal-awal lahirnya eksistensialisme, dan pemikirannya terus eksis pada zaman sekarang ini. Disamping empat pemikir tersebut, tidak banyak filsuf yang benar-benar dapat dikatakan sebagai filsuf eksistensialisme, walaupun kajian dari eksistensialisme sangat menarik perhatian bagi para filsuf. Dan pada akhirnya eksistensialisme hanya berkembang di negara-negara latin seperti perancis dan itali, yang mana mengalami perkembangan yang sangat signifikan di Jerman tahun 1930.

Sepanjang masa hidupnya Kierkegaard seorang Denmark beragama protestan. Ia tertarik tentang berbagai macam hal. Penemuannya di abad 20 dia menemukan kembali persamaan diantara kisah hidupnya yang tragis. Pemikiran yang subjektif dan pemikiran tentang jiwa di zaman sekarang terus berkembang. Gabriel marcel menggabungkan idenya yang kurang lebih sama seperti yang dipikirkan Kierkegaard. Ia lebih mengutamakan eksistensi dibandingkan dengan esensi, dan ia merupakan orang yang pertama kali mengungkapkan kata eksistensi. Ia pada dasarnya orang yang anti intelektualitas. Tuhan tidak bisa dicapai dengan pemikiran rasional. Kepercayaan orang kristen penuh dengan kontradiksi. Kierkegaard menggabungkan teorinya dengan teori yang memusatkan diri pada kesendirian manusia terhadap dengan tuhan dan takdirnya yang tragis tentang manusia. Terakhir teori metafisik baru memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap filsafat eksistensialisme. Semua eksistensialisme menggarisbawahi problem makhluk hidup dan beberapa diantara seperti Heidegger memperlihatkan hubungan dengan metafisik zaman pertengahan dan kuno.   

Martin Hiedegger memulai karirnya sebagai orang kristen baru. Dia memperoleh dokter di “Freiburg im Breisgau”, dan lalu ia mengikuti jejak pemikiran Husserl. Ia menyusun skripsi tentang katogori dan signifikansi dari ajaran duns Scotus’s. Ia lalu menjadi koeditor di “Jahrbuch fur philosophie und phanomenologische forscbung”. Heidegger merupakan pemikir yang ekstrim, hanya beberapa filsuf saja yang mengerti pemikiran Heidegger. Pemikiran Heidegger selalu tersusun secara sistematis. Tujuan dari pemikiran Heidegger pada dasrnya berusaha untuk menjawab pengertian dari “being”. Di dalam realitas nyata being (sein) tidak sama sebagai “being” ada pada umumnya, sesuatu yang mempunyai ada dan di dalam ada, dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan ada sebagai pengada. Heidegger menyebut being sebagai eksistensi manusia, dan sejauh ini analisis tentang “being” biasa disebut sebagai eksistensi manusia (dasein).

About these ads

One thought on “EKSISTENSIALISME

  1. Kawanku…
    Tulisan yang menarik tentang eksistensialisne..aku membaca pengantar bukunya Heiddeger, Sein Un Zeit, dan tak ada satupun yang aku dapat dari situ..benar katamu, Heidegger sulit di mengerti,(sok filsuf gitu aku) tapi Goenawan Muhamad dengan mudahnya menulis beberapa esai tentang ajaran Filsuf dari Jerman itu..

    Mungkin menurutku Novel Albert Camus, “Orang Aneh” juga menunjukan ekspresi Eksistensialismenya melalui karya Sastra..
    Boleh donk aku pinjam karya Sartre (terjemahan) yang kawan maksud,
    sulit sekali aku mencarinya..

    O.ya, ndy gabunglah di Milis Alumni KPN, kita berbagi informasi/diskusi di ruang milisnya..
    alumni_kpn_indonesia@yahoogroups.com
    Moderator : David Kuntel (SULUT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s