Aplikasi Psikoanalisis Freud Dalam Masyarakat

Kita ketahui bersama bahwa pada dasarnya tujuan Freud terhadap psikoanalisisnya tidak dimaksudkan hanya sebagai untuk perlakuan psikiatrik semata, dalam artian bahwa ia tidak menghendaki bahwa teori psikoanalisisnya hanya digunakan untuk menolong orang memecahkan berbagai macam permasalahan yang dihadapi dengan pendekatan psikologis. Lebih jauh Freud mengemukakan bahwa tujuan psikoanalisisnya adalah untuk membentuk budaya, seni, ilmu-ilmu sosial kemanusiaan, dan yang utama adalah cara untuk membentuk kepribadian anak. Freud berharap bahwa teorinya dapat berfungsi praktis dan dapat digunakan untuk membantu orang tua membesarkan dan membentuk kepribadian anak.

Freud tidak mengharapkan agama sebagai peletak dasar fondasi kepribadian anak, karena menurutnya agama terutama para pendeta dan pastor hanya memaksakan otoritarianismenya dengan doktrin-doktrin yang diberikannya kepada jemaatnya. Di sini anak tidak sewajarnya mendapatkan perlakuan tersebut karena ia seharusnya bebas untuk menentukan apa yang mereka inginkan dengan bantuan psikoanalis untuk mengarahkan mencari jati dirinya. Institusi agama hanya menghalangi seseorang membentuk kepribadiannya, karena secara tidak langsung institusi tersebutlah yang akan membentuk kepribadian seseorang, dan hal tersebutlah yang hendak ditentang oleh Freud.

Permasalah yang akan timbul dari psikoanalisis Freud adalah apakah seseorang dapat menganalisis dirinya sendiri?. Di sini Freud menjawab atas pertanyaan ini bahwa hanya Freudlah yang dapat menganalisis dirinya sendiri, sedangkan orang selain Freud memerlukan orang lain untuk menganalisis dirinya sendiri, tentunya dengan mengikuti analisis jalan Freud. Jika hal tersebut terjadi maka implikasi langsung dari analisis diri dengan cara tersebut adalah seseorang tidak akan pernah untuk menemukan jati dirinya sendiri dengan bantuan dirinya sendiri, namun harus ada bantuan serta peran orang lain untuk mewujudkan itu. Hal inilah yang akan menimbulkan seseorang tidak dapat berusaha sendiri menemukan jati dirinya, padahal orang yang bersangkutanlah yang merasakan sendiri pengalaman yang dilaluinya. Selain itu dimungkinkan seseorang tidak memiliki privasi terhadap dirinya sendiri karena segala pengalamannya harus di analisis oleh orang lain. Di sini keegoisan dari teori Freud mulai terlihat.

Lalu jika kita mulai menuruti segala ajaran dan perlakukan sistem Freud lalu apa yang akan kita dapatkan. Freud menjelaskan bahwa dalam proses analisis diri, psikis kita akan diambil oleh seorang analis dalam bentuk ketidaksadaran material yang disembunyikan di dalam diri pasien. Pada saat inilah sang analis berdialog langsung dengan psikis kita. Setelah itu tujuan akan datang secara cepat ke dalam pandangan, dan analis akan mempertegas penafsiran dari memorinya sendiri. Interpretasi dari seorang analis inilah yang natinya akan membawa pasien pada proses kesadaran. Dan dari hasil ini implikasi terdekatnya adalah bahwa seseorang tidak dapat menolak hasil dari interpretasi seorang analis. Di sinilah kita seakan dikondisikan untuk tidak mengerti diri kita sendiri dan hanya orang lain yang dapat mengerti keadaan diri kita.

Freud mengemukakan bahwa ego nantinya yang akan mengkompromikan antara tuntutan ego kebinatangan pencari kesenangan dan kesempurnaan super ego yang merupakan representasi larangan-larangan moral bagi kita, yang merupakan penyokong usaha menuju kesempurnaan, sementara pada saat yang sama disesuaikan denga tuntutan orang lain dan lingkungan. Di sini akan timbul permasalahan, dalam proses psikologi kita hanya dapat mendeskripsikan sesuatu dengan bantuan analogi-analogi. Namun dalam konteks realnya Freud tidak memperhatikan analogi-analogi yang seharusnya dipakai, dan model-model diri yang mendahuluinya.

Karena itu juga semenjak para filosof dan para pendahulu Freud tidak merasa diuntungkan oleh psikoanalisis Freud. Dan tidak seperti Freud mereka tidak dapat menganalisis dirinya sendiri, dan oleh karena itu juga tidak ada yang menyandang status Freudian. Tentu saja Freudlah yang akan mengambil pada dirinya sendiri untuk menganalisis apa dan mengapa mereka benra-benar berpikir dan merasa seperti apa yang mereka rasa. Para filsuf cenderung tidak mau berlaku lebih jauh terhadap teori psikoanalis Freud karena mereka tidak memilih untuk dianalisis oleh orang lain, karena mereka merasa orang lain tidak berhak untuk mengetahui keadaan dirinya apalagi samapi menyelam lebih dalam lagi. Di sini tampak terlihat lagi bahwa Psikoanalisis Freud seakan tidak bermakna apa-apa untuk orang lain.

Freud di sini tidak memberi perhatian terhadap pandangan-pandangan yang pantas dan sama dengan yang lainnya. Kebanyakan dari ide-idenya seperti halnya dengan kita semua lahir dan lalu akan tenggelam begitu saja. Dan yang dirasa paling buruk adalah Freud berusaha untuk membawa hegemoni psikoanalisis yang komplit pada seni, budaya, dan pendidikan masyarakat barat sebagai sebuah tindakan mengalomania yang nyaris tidak terdengar dalam sejarah budaya kita. Seakan pernyataan yang akan timbul adalah, untuk menganalisis diri sendiri saja seseorang banyak menemukan kesulitan, apalagi teori ini diterapkan pada ranah yang lebih luas lagi.

Freud telah membuat narasi tentang perkembangan manusia yang mengkombinasikan tema-tema mitos dangan metefora-metafora ilmiah secara kontemporer. Ini adalah sebuah pendekatan yang muncul semenjak ia membuat gap kiri dengan berusaha menhancurkan agama kristen. Ia menawarkan baik kegembiraan dan ilusi tidak memihak serta pengakuan heroisme diri. Pandangan Freud bahwa pada dasasarnya masyarakat bersifat menyesakkan dan menghambat, sekalipun penting, tetap saja destruktif.

Ia telah banyak dikacaukan oleh orang terpelajar jauh dari masalah yang pernah ditekan dari memelihara, mempertahankan, dan membangun masyarakat beradab. Melindungi masyarakat dan menegaskan individu tetapi membutuhkan partisipasi aktif dan matang dari yang dijalankan warga negara. Dengan demikan Freud memberi kontribusi bagi keasikan abad 20 dengan diri. Pusat pandangan ini telah disterilkan bagi individu dan perusakan terhadap masyarakat. Pandangan Freud tentang identitas personal secara filosofis naif, dan hanya mengambil tanggung jawab sedikit dari perkembangan subjek semenjak John Locke. Klaimnya menjadi seorang ilmuan dan memiliki basis teori pada prinsip-prinsip biologis tidak tahan terhadap cobaan.

One thought on “Aplikasi Psikoanalisis Freud Dalam Masyarakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s